Salah satu dampak yang dikhawatirkan terjadi saat pandemi COVID -19 adalah di sektor pangan.  Bahkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) prihatin terkait pada keamanan pangan dan mata pencaharian, kekhawatiran terjadinya krisis pangan.  Oleh karena itu dipandang penting  ketahanan pangan  berupa pangan lokal  sebagai sarana untuk terus bertahan hidup bahkan di tengah bencana. Pemerintah RI pun mengantisipasi hal tersebut dengan proyek pangan nasional di Kalimantan Tengah.

Salah satu sumber pangan lokal di Kalimantan Tengah adalah jamur  atau bahasa dayaknya disebut “Kulat Siaw”.  Sebagaimana diketahui, bahwa jamur telah lama menjadi bagian dari solusi untuk kekurangan makanan dunia serta masalah kesehatan. “Secara tradisional, masyarakat akan mencari sumber pangan untuk bertahan hidup. Dan jamur adalah sumber pangan potensial bagi masyarakat di sekitar hutan. Studi menunjukkan bahwa terdapat 2000 spesies jamur di dunia yang dianggap aman untuk dikonsumsi manusia dan terdapat sekitar 650 di antaranya memiliki sifat obat”.  Demikian disampaikan Safinah Surya Hakim, S.Hut, MSi Peneliti Balai litbang LHK Banjarbaru, pada makalahnya untuk sebuah seminar.

Berdasar studi secara  etnomikologi, yaitu mempelajari pengetahuan dan praktik penggunaan jamur  dari pengetahuan masyarakat lokal. Studi yang kami lakukan terhadap responden  di beberapa daerah sekitar  Kabupaten Kapuas sampai  Kecamatan Jabiren Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan  ternyata cukup  banyak responden yang menyatakan  mendapatkan secara langsung jamur ini (61%),  dan ada juga yang membeli di pasar tradisional (39%).

Umumnya responden yang mengambil langsung jamur,  mendapatkan di bawah pohon antara lain di pekarangan, pohon karet, rambutan, bambu dan sawit. Musim hujan merupakan musim banyak dijumpai jamur ini. Hal ini sesuai teori bahwa jamur cenderung memproduksi tubuh buah di awal musim hujan karena kondisi lingkungan yang lebih lembab sehingga mendukung pertumbuhan jamur. Harga jamur ini sangat beragam yakni berkisar Rp. 8.000 – Rp.30.000/kilogram. Kadangkala jamur ini dijual dengan satuan wadah takar berupa keranjang plastic atau piring-piring kecil dengan harga Rp.5.000 – Rp. 10.000 pertakaran. “Jamur ini sudah lama menjadi jamur konsumsi dengan cara pengolahan antara lain ditumis atau dimasak menjadi sop, tambah Safinah memberi keterangan.”

Kulat siaw (Hygrocybe sp.) memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik, karena mengandung serat, Vitamin C, Fe, Na, protein, sedikit kandungan lemak. Jika disandingkan dengan jamur konsumsi yang sudah dibudidayakan seperti jamur tiram, Kulat siaw ini lebih rendah kalori, namun tetap mengandung senyawa yang bermanfaat untuk tubuh yakni Likopen, sangat mendukung kesehatan liver, cardiovascular serta fertilitas pria. Kandungan gizi yang cukup lengkap ini membuat kulat siaw berpotensi menjadi alternatif pangan untuk masyarakat di sekitar hutan.

Written by :