Pandemi tidak menyurutkan semangat para pihak untuk tetap produktif dan berbagi ilmu dengan sesama. Seperti halnya yang dilakukan dua peneliti kebanggaan Balai Litbang LHK Banjarbaru Tri Wira Yuwati, S.Hut M.Sc dan Marinus Kristiadi Harun, S.Hut, M.Si. Mereka terlibat sebagai narasumber dalam webinar yang mengusung tema “Pelatihan Berbasis Lapangan dalam Pengembangan Budidaya Berkelanjutan Paludikultur”.

Webinar ini di gawangi oleh Pusat Unggulan Iptek Riset Gambut (PUIRG) Universitas Riau berkerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG),  Winrock International, Konsorsium Paludikultur Indonesia. Acara dilaksanakan selama dua hari yaitu Rabu dan Kamis, 25 dan 26 Agustus 2020 di Harmoni 21 Hotel, Kabupaten Siak Riau. Acara dibuka secara resmi oleh Asisten I Setda Kabupaten Siak Bapak  Budhi Yuwono, dilanjutkan sambutan oleh Kepala Deputy IV BRG Dr. Haris Gunawan.

Dalam sambutannya  Haris berpantun tentang paludikultur “Sungguh indah suara murai, membuat tertegun si burung gagak. Mari kita perluas paludikultur, bersama masyarakat kita semua negeri Indonesia menjadi maju”. Beliau menginginkan paludikultur bisa menjadi sahabat bahkan saudara sedarah bagi masyarakat Riau pada khususnya. “ Penting bagi kita membentuk jejaring, forum komunikasi untuk pengembangan paludikultur dan berangan-angan mendeklarasikan kampung paludikultur di Indonesia “, pungkas Haris.

 Prinsip dasar paludikultur adalah pemanfaatan lahan rawa gambut untuk budidaya tanpa adanya pengeringan lahan, sehingga pemilihan jenis yang sesuai & bibit berkualitas menjadi kunci utama dalam pengembangan komoditas paludikultur tutur Ira mengawali presentasinya. Presentasi dengan judul “Teknik penanaman dan pemeliharaan tanaman di lahan gambut” menjadi topik yang diusung Tri Wira kali ini. Dalam pemaparannya Tri Wira menyampaikan ada tiga tahapan penanaman yaitu pra meliputi : persiapan bibit dan persiapan lahan, tanam yaitu proses penanaman dengan melubangi bagian bawah polybag dan pasca meliputi : penyulaman, pemeliharaan dan perlindungan. “Beberapa jenis tanaman asli rawa gambut telah berhasil kami perbanyak secara vegetatif maupun generatif” tuturnya.

Dikesempatan berikutnya Marinus mengusung judul “Membangun ekonomi kreatif lahan basah berbasis paludikultur. Menambahkan dari paparan Tri Wira “bahwa keberhasilan itu juga didukung oleh nilai ekonomi dan diversifikasi produk dari hasil lahan gambut” tuturnya. Lebih lanjut Marinus mengajak peserta untuk dapat memanfaatkan lahan gambut tanpa menimbulkan kerusakan dengan memanen secara lestari, dan memanfaatkan secara ekonomi. Tuhan menciptakan ekosistem pasti ada manfaatnya. Melalui ekonomi kreatif dengan mengolah sesuatu yang tadinya tidak bernilai menjadi bernilai yang didukung oleh keberadaan industri kreatif, dibangun kelembagaannya. Beberapa contoh produk dari ekonomi kreatif kompos blok untuk budidaya sayuran,  pelet pakan ternak, sedotan purun, piring organik dari daun meranti dan daun pisang dll.  Diakhir presentasinya Marinus menuturkan bahwa pengembangan ekonomi lahan basah berbasis paludikultur dilakukan dengan mengembangkan kawasan terpadu tematik. (Faj)  

Written by :