BP2LHK_Banjarbaru(Banjarbaru_110920). “Kebakaran hutan telah memberikan banyak dampak negatif, antara lain : ekspor asap di udara; terganggunya transportasi udara, proses belajar mengajar dan perdagangan; degradasi hutan, kerusakan lahan milik, punahnya flora dan fauna, menurunkan produktivitas lahan, dan terganggunya kesehatan, merusak sistem ekologi dan perubahan iklim. Data salah satu lembaga survey mencatat kerugian yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 mencapai 226 Trilyun rupiah”, demikian dipaparkan Prof. Acep Akbar pada acara Webinar yang berjudul “Kecil jadi Kawan, Besar jadi Lawan”. Webinar ini diselenggarakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru pada hari Selasa, 8 September 2020. Prof. DR. Acep Akbar bersama dengan Marinus Kristiadi Harun, S.Hut, M.Si, peneliti BP2LHK Banjarbaru menjadi narasumber utama pada acara webinar tersebut.

Menjadi narasumber pertama, Prof. Acep memaparkan tentang proses terjadinya kebakaran, dampak kebakaran dan strategi apa yang bisa dilakukan dalam upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran. “Sesungguhnya Indonesia telah diberi pelajaran yang banyak dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari sejak 1983/1984-sekarang. Strategi yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan kebakaran adalah pencegahan integratif yaitu pencegahan terpadu antara upaya teknologi (alarm otomatis kebakaran, pengolahan lahan tanpa bakar, penertal asap, dll), pendidikan (pelatihan pemadaman dini, pengolahan bahan bakar, pelatihan pemanfaatan sumber daya lokal, dll) dan penegakan hukum (aturan pengolahan tidur, penyesuaian sanksi denda dan kurungan, dll), “ papar Prof Acep , peneliti utama BP2LHK Banjarbaru yang telah lama melakukan penelitian terkait karhutla.

Narasumber ke-2, Marinus Kristiadi Harun, S. Hut, M.Si, merupakan peneliti BP2LHK Banjarbaru yang menggeluti bidang kepakaran Agroforestri. Pada webinar tersebut, beliau memaparkan tentang “Manajemen Bahan Organik untuk Pencegahan Karhutla”.

“Terdapat 2 manajemen utama pengelolaan bahan bakar (BB) yaitu manajemen skala tapak dan manajemen skala landskap. Manajemen skala tapak meliputi merendahkan BB, mengurangi muatan, menghilangkan BB, menggunakan pola tanam agroforestri dan pembuatan sekat/canal blocking. Manajemen BB skala lanskap meliputi kelola lahan, peningkatan nilai ekonomi lahan, kelola tani dan sistem peringatan dini (Early Warning System). Beberapa kegiatan terkait manajemen skala tapak dan skala landskap telah dipraktikkan dalam masyarakat di beberapa daerah, seperti peningkatan nilai ekonomi lahan melalui ekonomi kreatif antara lain : pengolahan daun nenas menjadi bahan serat alami; piring organik dari daun meranti, daun pisang, daun teratai dan pelepah daun pisang; pengolahan gulma dan limbah pertanian sebagai pupuk hayati Biotara; pengolahan bahan organik menjadi kompos blok, pellet energi dan pellet pakan”, demikian papar Marinus.  

Pencegahan karhutla sendiri dapat dilakukan dengan melakukan manajemen bahan bakar (bahan organik lahan). Bahan organik lahan dapat diolah menjadi aneka produk bernilai ekonomi. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, sekaligus sebagai upaya bekerja di depan api (pencegahan). Kawasan terpadu pencegahan karhutla (kawasan pertanian tanpa bakar dan pengolahan bahan organik) perlu dikembangkan untuk upaya bekerja di depan api yang lebih berhasil.

Acara menjadi lebih “hidup dan semangat” dengan adanya sesi lapangan. Berlaku sebagai narasumber, Eko Priyanto S. Hut, teknisi litkayasa manajemen hutan BP2LHK Banjarbaru dan Junaidi, mekanik peralatan pemadam kebakaran BP2LHK Banjarbaru. Kedua narasumber mengenalkan tentang peralatan pemadaman kebakaran (pelatatan pengamanan pemadam standar, garu, kapak dua mata, cangkul modifikasi, gepyok, pompa punggung jufa, selang isap, mesin modifikasi, dll) dan cara penggunaan peralatan tersebut. Acara semakin menarik ketika tim lapangan berupaya memadamkan api buatan dengan menggunakan peralatan pemadaman sederhana, dimana sebagian alat-alat yang digunakan  merupakan hasil rekayasa dari tim karhutla BP2LHK Banjarbaru.

Webinar yang berlangsung selama + 2 jam ini berlangsung interaktif dan mendapat apresiasi yang sangat bagus dari para peserta.  Dra.Lilis Kurniati, Kasie Data, Informasi dan Kerjasama (DIK) memandu acara dengan begitu menarik, serius namun santai. Selain menggunakan aplikasi zoom, webinar juga disiarkan secara langsung melalui media you tube dan facebook.

Webinar ini diharapkan menjadi salah satu media untuk menyampaikan hasil-hasil penelitian yang telah dlakukan oleh BP2LHK Banjarbaru dan sebagai salah satu upaya untuk mendukung sosialisi upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla. Bagi sobat hijau yang tertarik dengan webinar ini, bisa melihat rekaman webinar melalui media youtube chanel Litbang LHK Banjarbaru judul “Webinar Balai Litbang LHK Banjarbaru “Kecil jadi Kawan, Besar jadi Lawan”. Semoga BP2LHK Banajrbaru semakin jaya dan bisa berkontribusi terhadap pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, dan Kalimantan Selatan pada khususnya (***JND).

Written by :