Korea Indonesia Forest Center (KIFC) berkunjung ke Balai Litbang LHK Banjarbaru pada hari Selasa (29/09/20). “Tujuan kunjungan kami adalah untuk mengetahui terkait pengelolaan lahan gambut yang telah dilakukan Balai Litbang LHK Banjarbaru. Kami juga sampaikan bahwa KIFC saat ini memiliki proyek kegiatan di lahan gambut Provinsi Jambi. Kunjungan ini juga sekaligus untuk melihat kondisi pabrik wood pellet kerjasama Pemerintah Korea dan Republik Indonesia di Kabupaten Banjar”, ungkap Mr. Lee Sung-gil ,Director of KIFC. Turut juga hadir dalam kunjungan tersebut Uus Danu Kusumah (Indonesia Co-Director KIFC), Mr. Hong Jung-Pyo (President Director, Indonesia Branch of KIFC), dan Ari Bima Putra (Project Staff)

Iskandar, S.Hut, MIL, selaku Plh. Kepala Balai Litbang LHK Banjarbaru,  Prof.( Ris.) Dr. Acep Akbar  dan Teknisi Litkayasa Riswan Ariani, S.Hut menyambut kedatangan rombongan KIFC. “Kami mengelola 4 Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK). Tumbang Nusa merupakan satu-satunya KHDTK di lahan gambut. Berbagai kegiatan penelitian telah dilaksanakan di KHDTK Tumbang Nusa”, jelas Iskandar mengawali  sambutannya. Di KHDTK ini juga kami menggalakkan program RePeat yaitu menanam kembali di lahan gambut secara sukarela baik dari pelajar, mahasiswa, instansi , perusahaan dan masyarakat umum. Termasuk juga pembangunan CamPeat  sebagai sarana camping ,ungkap Iskandar.

Diskusi semakin hangat  ketika Prof.(Ris.) Dr. Acep Akbar  menjelaskan beberapa aspek terkait rehabilitasi lahan gambut yang jika dikelompokkan menjadi tiga yaitu rewetting, revegetation dan revitalization.  “Rewetting adalah semua kegiatan dan metode yang dilakukan dalam upaya menyeimbangkan sistem hidrologi lahan gambut dan mencegah terjadinya kekeringan tidak balik saat kemarau dengan cara menabat kanal kanal besar “, jelas Acep.

“Untuk revegetation, hal-hal yang perlu dipelajari dan diketahui adalah Pertama  bagaimana persiapan lahan tanpa bakar harus dilakukan yaitu menggunakan herbisida dan memanfaatkan bahan organik menjadi pupuk atau pelet. Kedua. mengetahui jenis-jenis  potensial yang mampu langsung tumbuh (pioner) dalam hutan yang terbuka/terdegradasi contoh: Shorea belangeran dan jelutung.  Ketiga, membuat gundukan/surjan, Keempat ,melakukan pemupukan yang bersifat slow release baik pupuk biologi maupun kimia dan organik.  Dan terakhir melakukan pemeliharaan”, lanjut Acep.

Dalam revitalizasi perlu diketahui dan dipelajari bagaimana strategi memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat tetapi ramah lingkungan, contohnya dengan pengembangan agroforestry di sekitar pemukiman penduduk.  Selain itu ,mengacu kepada kearifan lokal di lahan gambut yang umum menjadi andalan adalah perikanan tangkap. Kemudian dengan  membangun demontration plot, yaitu pembangunan tanaman tanpa bakar di desa-desa .  Nah, semua upaya tersebut harus dilakukan secara terus menerus, jelas Acep lebih lanjut.

Terakhir, Acep menjelaskan terkait inovasi peralatan-peralatan pemadaman karhutla yang telah mendapatkan 2 paten sederhana dari Kemenkumham RI.

Mr. Lee Sung-gil sangat terkesan dengan pemaparan dari BP2LHK Banjarbaru termasuk pada kegiatan RePeat yang melaksanakan penanaman di lahan gambut secara sukarela yang telah melibatkan ribuan masyarakat luas, pelajar, mahasiswa dan berbagai instansi dari dalam dan luar negeri serta pembuatan CampPeat sebagai sarana berkemah yang digagas BP2LHK Banjarbaru di KHDTK Tumbang Nusa.

Mr. Lee Sung-gil berjanji akan berkunjung ke KHDTK Tumbang Nusa pada bulan Desember untuk melihat langsung pengelolaan KHDTK Litbang di lahan gambut. Di akhir kunjungannya, tim KIFC berkeliling melihat kawasan kantor BP2LHK Banjarbaru dan sangat terkesan melihat mural pada beberapa bidang dinding kantor BP2LHK Banjarbaru serta melihat sarana penelitian dan edukasi arboretum, persemaian, edupark rusa, tanaman ulin, madu kelulut dan berbagai jenis anggrek di kompleks kantor BP2LHK Banjarbaru.

Written by :