Akhir-akhir ini banyak kita dengar istilah Paludikultur. Secara sederhana Paludikultur merupakan salah satu metode budidaya di lahan gambut, tanpa mengubah kondisi asli lahan gambut. Seyogyanya, paludikultur merupakan praktik pertanian yang digunakan oleh masyarakat dahulu, namun sudah mulai terlupakan. Padahal, praktik paludikultur merupakan win-win solution bagi lingkungan serta masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut.

Terkait dengan itu, Balai Litbang LHK Banjarbaru sebagai salah satu pelaksana kegiatan Peningkatan Ekonomi Nasional (PEN) Food Estate (FE) Badan Litbang dan Inovasi melakukan riset aksi paludikultur di lahan gambut. Terdapat dua lokasi pelaksanaan kegiatan ini. Pertama, di desa Pilang Kab. Pulang Pisau, yang merupakan lahan gambut tipis. Kedua, kegiatan dilakukan di Tumbang Nusa, Kab. Pulang Pisau yang mewakili habitat gambut dalam. Kegiatan riset aksi ini rencananya akan dilakukan pada Oktober hingga Desember 2020.

Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi antara Balai Litbang LHK Banjarbaru, Pusat Litbang Sosial Ekonomi dan Kebijakan Hutan dan Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS Solo serta Universitas Palangkaraya sebagai mitra. Kegiatan PEN FE yang dilaksanakan oleh Balai Litbang LHK Banjarbaru ini memiliki judul besar “Model Restorasi Ekosistem Gambut Berbasis Masyarakat” didalamnya terdapat 3 sub kegiatan yaitu : (1)Evaluasi demplot paludikultur yang dibasahi kembali yang dilaksanakan oleh Balai Litbang LHK Banjarbaru; (2) Pemetaan potensi pasar dan kemandirian usaha petani untuk mendukung restorasi gambut yang dilaksanakan oleh P3SEKPI Bogor dan (3) Pengurangan kebakaran lahan gambut melalui pengelolaan muka air tanah yang dilaksanakan oleh BPTPDAS Solo.

Pelaksanaan kegiatan ini selaras dengan tiga prinsip restorasi gambut yaitu 3R yakni pembasahan kembali (Re-wetting), penanaman kembali, dalam hal ini adalah paludikultur (Revegetasi) dan Revitalisasi mata pencaharian masyarakat (dalam hal ini adalah pemetaan potensi pasar produk gambut dan kemandirian usaha tani).

Di Desa Pilang, praktik Paludikultur dilakukan pada lahan pertanian milik masyarakat dengan menanam jenis-jenis tanaman pertanian yang diketahui adaptif pada lahan gambut tipis. Jenis tanaman ini terbukti cukup baik pertumbuhannya dan saat ini sudah berhasil dipanen dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain itu, juga dilakukan pengembangan budidaya lebah kelulut sebagai sumber pangan.  

“Adanya praktik paludikultur akan mendorong masyarakat untuk memiliki sense of belonging atas lahannya, sehingga mereka akan benar-benar menjaga lahannya dan hal ini dapat mencegah terjadinya kebakaran lahan gambut”, Ujar Tri Wira Yuwati, Peneliti Litbang LHK Banjarbaru yang merupakan koordinator pelaksana kegiatan ini. “ Kegiatan ini juga mendukung sepenuhnya inisiasi lumbung pangan baru di wilayah Kalimantan Tengah, sesuai instruksi Presiden”, tambah Tri Wira.

Sebagai informasi, Litbang LHK Banjarbaru dipercaya untuk melakukan kegiatan PEN FE BLI KLHK yang didalamnya terdapat beberapa sub kegiatan diantaranya (1) Model restorasi ekosistem gambut, Banjarbaru-UPR, (2) Konektivitas sistem lindung dan budi daya gambut: BLI-UGM, (3) Multisistem silvikultur: P3H-IPB, (4).              Bisnis ketahanan pangan masyarakat, P3SEKPI-IPB, (5) Budi daya gambut berkelanjutan, P3SEKPI-UNTAN, (6) Konservasi biodiversitas ekosistem gambut, P3H-UGM, (7) Arang terpadu gambut, P3HH-UPR, (8) Wisata tradisional berbasis kearifan lokal, P3H-UNLAM, (9) Tata Air Lahan Gambut Scr Lanskap, BPTPDAS Solo – UPR, (10) Aspek lingkungan restorasi dan rehabilitasi kubah gambut, P3KLL-UPR, (11) Monitoring dan evaluasi.

Written by :