(Banjarbaru_290121). Hujan dengan intensitas tinggi yang turun di wilayah Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) telah menyebabkan banjir besar yang diikuti dengan banjir bandang dan tanah longsor di beberapa tempat. Tercatat dalam sejarah, banjir besar yang telah terjadi di Kalsel tidak pernah terjadi dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. 

Sebelum banjir besar terjadi, di beberapa wilayah di Kalsel telah mengalami banjir tahunan  dimana kebanyakan warga masih bertahan dirumah masing-masing. Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak tanggal 9 Januari 2021 membuat ketinggian muka air meningkat secara perlahan-lahan. Puncaknya, pada Rabu 13 Januari 2021 intensitas hujan sangat tinggi mencapai 300 mm/hari. Hujan yang terjadi sejak Rabu dinihari tersebut menyebabkan tinggi muka air meningkat dengan cepat. Sejak Rabu siang warga mulai bergerak mengungsi ke daerah pengungsian. Evakuasi mulai dilakukan secara perlahan oleh tim relawan bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel.

Hujan yang hampir tidak berhenti sejak Rabu dinihari yang terjadi hampir merata di seluruh wilayah Kalsel akhirnya “menjebolkan” daya dukung lahan dan pemukiman masyarakat.  Pada Rabu tengah malam hingga Kamis pagi, banjir bandang dan tanah longsor terjadi di beberapa titik. Tinggi muka air banjir meningkat dengan sangat cepat di hampir semua wilayah propinsi Kalsel, hingga ada yang mencapai + 2 m. Evakuasi besar-besaran terus dilakukan karena hujan intensitas tinggi terus terjadi hingga Jum’at, 15 Januari 2021.

Data resmi yang dikeluarkan Diskominfo dan Media Center Kalsel pada Kamis 28 Januari 2021 tercatat 11 kabupaten/kota dari 13 kabupaten/kota di Kalsel yang terlanda banjir. Total korban terdampak mencapai 176.101 KK atau 627.047 jiwa, dengan jumlah pengungsi mencapai 135.656 jiwa. Kabupaten yang mengalami kerusakan terparah adalah kab. Banjar, Kab. Hulu Sungai Tengah (HST) dan Kab. Tanah Laut.

Data resmi yang dikeluarkan oleh Kominfo Kab. HST pada Kamis, 28 Januari 2021 tercatat 101 desa/kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan terdampak banjir. Jumlah korban jiwa mencapai 10 orang, rumah yang hilang 191 buah, rumah rusak 3.084  buah dan rumah terendam banjir 21.181 buah. Untuk wilayah kab. Banjar berdasarkan informasi resmi dikeluarkan Kominfo Kab. Banjar tanggal 26 Januari 2021 tercatat 100 desa/kelurahan terdampak banjir. Jumlah korban jiwa mecapai 8 orang, rumah hilang 19 buah dan rumah rusak 9.576 buah.

Menjadi sebuah pertanyaan besar, apakah penyebab banjir besar di Kalsel? 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyampaikan banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kalsel diakibatkan faktor intensitas hujan yang tinggi dan faktor lingkungan. Keduanya berperan sangat penting, kalau lingkungan mendukung dampaknya tidak akan terlalu besar dan sebaliknya kalau hujan tidak terlalu ekstrem banjir juga tidak terlalu besar, dikutip dari konferensi pers yang digelar secara virtual oleh BMKG pada hari Sabtu, 23 Januari 2021.

Mengutip dari wawancara majalah Tempo dengan Indra Gustari, Koordinator Analisis Variabilitas Iklim BMKG menyebutkan “Intensitas hujan yang sangat tinggi dipicu oleh  dinamika atmosfer yang berkembang di sekitar Kalimantan. Saat ini adalah periode puncak dari Muson Asia dan di Kalimantan juga terdapat Borneo Vortex yaitu semacam pola sirkuasi massa udara yang menyebabkan terbentuknya daerah konvergensi disebagian wilayah Indonesia, termasuk Kalsel”.

Lebih lanjut, Indra mengatakan,” Awalnya ini yang menciptakan hujan lebat di Kalimantan Selatan. Namun belakangan, curah hujan menjadi semakin tinggi dengan adanya sirkulasi massa udara basah (MGO) yang bergerak ke Indonesia”. Ia mengatakan sejumlah pemicu ini terjadi secara bersamaan dan terakumulasi menjadi hujan deras sepanjang 10 hari kemarin.

Banjir yang melanda Kalsel juga dirasakan oleh beberapa karyawan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru. Tercatat ada 7 orang karyawan BP2LHK Banjarbaru yang rumahnya terendam banjir, tersebar di 3 (tiga) kabupaten/kota yaitu Kota Banjarbaru (2 orang), Kota Banjarmasin (2  orang) dan Kab. Banjar (3 orang). Genangan banjir cukup bervariasi antar daerah, genangan tertinggi mencapai + 1 m.

Hal yang menarik dari kejadian banjir di kalsel adalah banyaknya posko bantuan swadaya oleh masyarakat yang jumlahnya cukup banyak, tersebar hampir diseluruh wilayah kab/kota yang terkena banjir. Karyawan dan karyawati BP2LHK Banjarbaru pun turut serta aktif memberikan bantuan, baik melalui penggalangan dana maupun menjadi relawan di posko-posko banjir yang berlokasi dekat dengan wilayah tinggalnya.

Bersama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang lain, BP2LHK Banjarbaru memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir melalui Tim Reaksi Cepat Peduli Banjir KLHK Kalimantan Selatan. Bantuan diberikan ke beberapa daerah, antara lain : Desa Jejangkit (Kab. Batola) dan Desa Baru, Desa Bulayak, Desa Alat (Kab. Hulu Sungai Tengah) dan akan segera menyusul ke Kab. Tanah Laut.

2 (dua) minggu pasca banjir besar datang, sebagian masyarakat mulai kembali beraktivitas dengan normal. Sebagian pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing dan mulai berbenah, walaupun masih banyak daerah yang masih terendam banjir. Banjir kali ini meninggalkan luka yang mendalam bagi masyarakat Kalsel. Rumah yang rusak berat, keluarga yang meninggal, sawah serta hasil panen yang rusak dan  trauma pada anak-anak bahkan orang dewasa. Semoga beberapa hari ke depan cuaca lebih bersahabat sehingga air cepat surut dan semua masyarakat bisa segera bangkit serta beraktivitas normal. 

Dan semoga dengan bencana ini lebih menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan disekitar kita dan menjaga hutan. Menjadi pembelajaran juga bagi kita bersama bagaimana kita lebih mencintai alam, lebih bersahabat dengan alam. Mulai dari diri sendiri dan dari hal-hal kecil, seperti : membuang sampah pada tempatnya, membuat tempat serapan air, dan menanam pohon (JND***). 

Written by :