Oleh

Syaifuddin,S.Hut

Provinsi Kalimantan Selatan merupakan daerah yang kaya akan keanekaragaman jenis tumbuhan berkhasiat obat. Tumbuhan berkhasiat obat sudah sejak lama diramu dan dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan secara turun-temurun. Namun demikian, ilmu untuk meramu tumbuhan berkhasiat obat saat ini cenderung mulai hilang. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang sudah mulai mengenal obat-obatan sintetis (kimia). Obat jenis tersebut mudah didapat dan dikonsumsi. Sebagai contoh, masyarakat lebih memilih obat sakit panas sintetis, daripada masyarakat harus susah payah mencari tumbuhan berkhasiat obat di hutan. Hal ini mengakibatkan ilmu untuk meramu tumbuhan berkhasiat obat mulai terancam punah, sehingga upaya pelestarian ilmu pengobatan tradisional dari masyarakat sekitar hutan perlu dilakukan. Bentuk pelestariannya adalah membangun Kebun Raya Banua dengan tema Tumbuhan Berkhasiat Obat Khas Kalimantan Selatan seluas 122,13 ha, yang berlokasi di Kawasan Perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Kota Banjarbaru. Tahap awal pembangunan Kebun Raya Banua adalah melakukan inventarisasi tumbuhan berkhasiat obat khas Kalimantan Selatan.

Kegiatan inventarisasi ini dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kalimantan Selatan dibantu oleh Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Kalimantan dan Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru. Inventarisasi ini dilakukan pada tahun 2012 di sembilan kabupaten di Kalimantan Selatan yaitu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Balangan, Tabalong, Banjar, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu.

Hasil inventarisasinya adalah sebagai berikut: 1). Desa Kiyu dan Desa Hinas Kiri Kecamatan Batang Alai Timur Kabupaten Hulu Sungai Tengah ditemukan 45 jenis tumbuhan berkhasiat obat yang digunakan masyarakat; 2). Desa Tempakang Kecamatan Paminggir Kabupaten Hulu Sungai Utara ditemukan 17 jenis tumbuhan berkhasiat obat; 3). Desa Malinau Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan ditemukan 33 jenis tumbuhan berkhasiat obat; 4). Desa Misim Kecamatan Dambung Raya Kabupaten Tabalong ditemukan 14 tumbuhan berkhasiat obat; 5). Desa Riam Adungan Kecamatan Kintap Kabupaten Tanah laut ditemukan 20 jenis tumbuhan berkhasiat obat; 6). Desa Belangian Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar ditemukan 18 jenis tumbuhan berkhasiat obat; 7). Desa Harakit Kecamatan Piani Kabupaten Tapin ditemukan 22 jenis tumbuhan obat; 8). Desa Mayanau dan Desa Ju’uh, Kecamatan Tebing Tinggi, dan Desa Mauya Kecamatan Halong Kabupaten Balangan ditemukan 41 jenis tumbuhan berkhasiat obat; dan 9). Desa Emil Baru Kecamatan Mentewe Kabupaten Tanah Bumbu ditemukan 45 jenis tumbuhan berkhasiat obat. Dari hasil inventarisasi ini dapat diketahui bahwa di sembilan kabupaten tersebut masih terdapat masyarakat yang hidup disekitar kawasan hutan dan mereka meramu tumbuhan berkhasiat obat.

Tahapan selanjutnya untuk pembangunan Kebun Raya Banua adalah melakukan kegiatan eksplorasi dan uji fitokimia terhadap tumbuhan berkhasiat obat di tahun 2013. Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung pelestarian tumbuhan berkhasiat obat khas Kalimantan Selatan yang mulai terancam punah.

Written by :