Gemor  merupakan  hasil  hutan  non kayu yang sudah lama  di manfaatkan oleh masyarakat , tak kurang  40 tahun lalu telah menjadi sumber pendapatan masyarakat sekitar hutan sebagai pencari  kulit kayu sebagai bahan baku obat anti nyamuk . Dengan cara pemanenan yang ekstraktif selama ini tanpa dibarengi dengan budidaya,  lambat laun menurunkan potensi  jenis ini di hutan alam.  Hal ini diindikasikan semakin sulitnya masyarakat mencari gemor.

Di lain pihak, hasil hutan non kayu ini yang bernilai ekonomi ini sampai saat ini belum terdapat pengaturan standardisasi produknya. Untuk itu, Yayan Hadiyan, Kasubid Perumusan Standar dari Pusat Standarisasi dan Lingkungan Kemenhut (Pustanling), dan Totok K Waluyo, peneliti Pusat Teknologi dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah) melakukan orientasi lapangan produk gemor  yang berada di Kalsel. “Standardisasi suatu produk saat ini adalah suatu keniscayaan.  Apalagi  dari bersumber dari hasil hutan kita. Saat ini, kami sedang mengumpulkan bahan produk gemor untuk memproses standarnya,“ kata Yayan Hadiyan.

“Kami melakukan pemeteaan keberadaan potensi dan distribusi pemasarannya. Kami juga mencoba cara budidaya dengan cara stek, namun  masih belum memuaskan, dan kami terus akan berupaya memperbaiki dan mencari teknik perbanyakannya ,”kata Sudin Panjaitan didampingi Purwanto dan Leo Jati dalam diskusi dengan tamu dari  Pustanling, Kamis (24/5/2012).  “Saat ini, kami bekerjasama dengan Balai Besar Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan sedang dicoba dengan teknologi perbanyakan dengan kultur jaringan,”kata Dr. Endang Savitri, Kepala BPK Banjarbaru.

Dalam kesempatan kunjungannya, tamu dari Pustanling berkesempatan melakukan kunjungan ke pengolahan gemor di Kalsel. (P) ***

Written by :