Penggunaan Citra Radar Alos Palsar Akurat dalam Mengukur Simpanan Karbon Hutan Tanaman

BPK Banjarbaru (Banjarbaru, 27022015) Penggunaan Citra Radar Alos Palsar untuk menduga simpanan karbon menghasilkan dugaan yang cukup akurat. Teknologi ini dapat digunakan untuk mengukur atau monitoring persediaan karbon pada tegakan hutan tanaman. Demikian disampaikan M. Abdul Qirom, M. Buce Saleh dan Budi Kuncahyo dalam Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.9 No. 3  September 2012 Hal : 121 – 134.
Saat ini luas hutan tanaman di dunia diperkirakan telah mencapai lebih dari 130 juta ha, dengan laju pertambahan rata-rata mencapai 10,5 juta ha/tahun yang menyebar di 124 negara dengan potensi karbon mencapai 11,8 Pg (Penta gram). Teknologi perhitungan cadangan karbon yang akurat dengan biaya yang murah dan waktu yang cepat saat ini sangat diperlukan untuk mendukung upaya mitigasi dari hutan tanaman. Penggunaan teknologi penginderaan jarak jauh selama ini sudah banyak digunakan, namun  masih terkendala dengan kualitas citra optik yang jelek sehingga data tidak akurat.

Namun kini, kendala tersebut sekarang sudah dapat diatasi dengan penggunaan citra berbasis radar. “Kualitas citra optik sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada saat peliputan seperti tutupan awan sehingga data yang dihasilkan kurang bagus.  Kekurangan ini dapat dihindarkan dengan menggunakan citra berbasis radar yang tidak terpengaruh oleh tutupan awan sehingga kualitas data yang digunakan lebih baik”, papar Qirom dalam jurnal tersebut. Salah satu citra berbasis radar yang bisa digunakan adalah citra radar alos palsar.

ALOS (Advanced Land Observing Satelite) adalah satelit yang mempunyai karakteristik unik untuk misi pemetaan. Satelit ALOS dilengkapi dengan tiga buah sensor penginderaan jauh dan subsistem pendukung misi untuk mencapai misi utama ALOS. Tiga buah sensor tersebut terdiri dari dua buah sensor optik yaitu sensor PRISM (Panchromatic Remote Sensing Instrument for Stereo Mapping) dan sensor AVNIR-2 (Advanced Visible and Near Infrared Radiometer type-2) serta sebuah sensor radar atau gelombang mikro yaitu PALSAR (Phased Array type L-band Syntetic Aperture Radar). PALSAR menggunakan gelombang mikroaktif sehingga dapat melakukan observasi siang dan malam tanpa terpengaruh kondisi cuaca

Penelitian ini dilakukan di PT. Inhutani II Unit Semaras Kalimantan Selatan yang mengembangkan jenis tanaman Acacia mangium dengan jarak tanam 3×3 m dan telah memasuki rotasi ke-dua.  Lokasi penelitian mempunyai kualitas tapak yang cukup baik pada level sedang.

“Metode yang kami gunakan adalah melakukan inventarisasi persediaan karbon secara langsung yakni pembuatan plot pengukuran sebanyak 69 plot dengan luas masing-masing plot seluas 0,1 Ha tersebar pada beberapa umur. Hasil inventarisasi tersebut digunakan untuk membentuk hubungan dengan nilai polarisasi dari citra Alos Palsar”, papar Qirom. Lebih lanjut, Qirom memaparkan bahwa pendugaan simpanan karbon dengan aplikasi teknologi penginderaan jarak jauh merupakan analisis lanjutan setelah pada citra tersebut dilakukan sejumlah proses analisis citra.

Penggunaan Citra Radar Alos Palsar Akurat dalam Mengukur Simpanan Karbon Hutan Tanaman Peta Sebaran Simpanan Karbon Areal PT. Inhutani II Kalimantan Selatan (Sumber : Qirom)

 

Dari hasil inventarisasi langsung di lapangan diketahui pada umur 1-9 tahun potensi simpanan karbon total per Ha di hutan tanaman A. mangium berkisar antara 35,48 -51,01 ton/ha dengan rata-rata 43,24 ton/ha. Setelah melalui  proses analisa data yang cukup rumit dan panjang, akhirnya diperoleh persamaan alometrik untuk menghitung simpanan karbon menggunakan citra alos palsar dengan tingkat keakuratan yang tinggi. Potensi sebaran simpanan karbon total terbesar berdasarkan aplikasi citra Alos Palsar yakni berkisar antara 40 – 80 ton/Ha.

Hasil penelitian Qirom, Saleh dan Kuncahyo ini berhasil menunjukkan bahwa penggunaan penginderaan jauh dengan perangkat citra alos palsar bisa digunakan untuk mengukur atau monitoring potensi cadangan karbon dengan hasil yang akurat dan cepat. “Penggunaan penginderaan jauh citra alos palsar mampu mendukung upaya hutan tanaman menjadi salah satu opsi mitigasi dalam mengurangi kenaikan karbon dioksida dan perubahan iklim global”, papar Qirom (JND) ***.

.Hubungi lebih lanjut :

Muhammad Abdul Qirom

Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru

URL  : http:// foreibanjarbaru.or.id

Jl.  A. Yani  km. 28,7 Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Telp /Fax : (0511) 4707872 / (0511) 4707872

3 Fakta Unik tentang Jamur yang Harus Anda Ketahui

 

3 Fakta Unik tentang Jamur yang Harus Anda Ketahui

3 Fakta Unik tentang Jamur yang Harus Anda Ketahui

 

Balai Penelitian Kehutanan banjarbaru

, Apa yang ada di pikiran anda saat mendengar kata jamur? Beberapa jawaban yang sering muncul adalah dekomposer, sebagaimana banyak diajarkan di pelajaran biologi saat menempuh bangku sekolah. Jamur atau dikenal juga dengan fungi memang memiliki peran utama sebagai dekomposer dalam rantai makanan, tapi tahukah anda bahwa beberapa fakta lain dari jamur yang menarik untuk anda ketahui.

Jamur sebagai Makanan

Di Indonesia, jamur tiram dan kuping merupakan jenis jamur yang paling banyak di konsumsi. Selain nikmat, harga jamur cukup terjangkau dan mengandung banyak sekali nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Jamur kerap kali menjadi makanan yang cukup bergengsi, salah satunya jamur truffle.

Jamur truffle merupakan jamur primadona di bidang kuliner. Pemanfaatannya sangat beragam, mulai dimakan langsung , dijadikan truffle oil, atau vodka. Harga jamur ini sangat fantastis, bisa mencapai $2500/pound atau sekitar 25 juta rupiah.

Jamur sebagai daya Tarik Wisata

Jamur memiliki beragam bentuk dan warna yang sangat menarik. Salah satu jamur dengan bentuk yang atraktif adalah jamur “glow in the dark” (Mycena silvaeluscens.). Jamur ini jika dilihat pada malam hari akan mengeluarkan cahaya kehijauan yang sangat menarik. Cahayanya muncul disebabkan adanya kandungan fosfor dan proses-proses fisiologis pada jamur.

Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), wisata jamur “glowing in the dark” ditawarkan sebagai salah satu wisata minat khusus, terutama di resort cikaniki. Selain di TNGHS, terdapat informasi bahwa jamur ini juga bisa di temukan di TN.Gunung Rinjani, Gunung Meja Papua, Gunung Palung Kalbar, Gunung leuser Aceh, Gunung Kerinci Sumatra, dan Tanjung Puting Kalteng .

Jamur sebagai Penyokong Pertumbuhan Tanaman

Selain sebagai decomposer tanaman yang sudah mati, jamur memiliki peran yang sangat vital dalam pertumbuhan tanaman. Hampir 90% tanaman, memiliki interaksi dengan jamur selama hidupnya. Jenis interaksi antara tanaman dan jamur yang banyak dikenal adalah mikoriza.

Hifa jamur lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan akar tanaman, sehingga dapat membantu tanaman untuk menyerap air dan nutrisi lebih baik. Berbagai penelitian juga banyak mengemukakan bahwa mikoriza memberikan banyak manfaat pada tanaman antara lain meningkatkan penyerapan unsur hara pada tanaman, memberikan ketahanan tanaman pada kondisi kekeringan air, dan juga bisa mencegah berkembanganya penyakit pada tanaman.

Bicara tentang mikoriza sebagai penyubur tanaman, Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru telah melakukan berbagai penelitian terkait mikoriza pada tanaman pada jenis-jenis rawa gambut. Salah satu peneliti BPK Banjarbaru, Tri Wira Yuwati menuturkan bahwa sudah ada beberapa jenis yang sudah diteliti interaksinya dengan mikoriza antara lain pada Pulai rawa (Alstonia pneumatophora), Ramin (Gonystylus bancanus) Punak (Tetramerista glabra), Merapat (Combretocarpus rotundatus), Medang telur (Stemonurus scorpioides Becc.), Nyatoh (Palaquium sp.), Galam (Melaleuca cajuputi) , Jelutung (Dyera polyphylla), Kapur naga (Callophylum soullattri), Bintangur (Callophylum inophylum), dan Alau (Dacrydium becarii) . Lebih lanjut, Yuwati menuturkan bahwa mikoriza juga bisa berpotensi dalam mendukung kegiatan rehabilitasi hutan rawa gambut.

Referensi :

http://www.huffingtonpost.com/2014/07/10/truffle-2500-australia-ted-smith_n_5571053.html

http://www.livescience.com/9730-glow-dark-mushrooms-discovered.html

http://beritadaerah.co.id/2014/10/31/glowing-mushrooms-di-gunung-salak/

http://en.wikipedia.org/wiki/Truffle

Cara Cepat dan Akurat Mengukur Volume Pohon dan Potensi Tegakan Nyawai (Ficus spp.)

BPK Banjarbaru (Banjarbaru, 9022015) Model penduga volume pohon dan potensi tegakan jenis nyawai (Ficus spp) terbukti mampu memberikan efisiensi waktu dan hasil yang akurat. Model penduga volume pohon dan potensi tegakan nyawai hasil penelitian Muhammad Abdul Qirom dan Supriyadi ini mampu memberikan akurasi data tinggi yang digambarkan dengan nilai koefisien determinasi sebesar 90,45%.

 

Nyawai  (Ficus spp) termasuk jenis utama penyusun hutan tropika yang sangat potensial dikembangkan untuk pembangunan hutan tanaman. Pengembangan nyawai membutuhkan informasi yang lengkap tentang kondisi tegakan, pertumbuhan dan hasil yang diperoleh pada masa yang akan datang. Penggunaan model penduga volume pohon dan potensi tegakan dapat menjadi alat yang mudah untuk mendapatkan potensi tegakan jenis nyawai secara cepat dan akurat. Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Abdul Qirom dan Supriyadi dalam Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Volume 10 No. 4 Desember 2013.

 

Muhammad Abdul Qirom adalah peneliti muda dengan bidang kepakaran silvikultur dan telah cukup lama melakukan penelitian terkait model penduga volume pertumbuhan beberapa jenis tumbuhan. Dalam penelitian model penduga volume jenis nyawai ini, qirom dibantu oleh Supriyadi, teknisi litkayasa yang selama ini sering membantu dalam penelitiannya.

 

Penelitian Qirom dan Supriyadi ini dilakukan di areal PT. ITCIKU Kartika Utama, Kalimantan Timur. Kondisi lahan penelitian bertopografi datar dengan kemiringan < 8 %. Jenis tanah termasuk dalam Podsolik Merah Kuning dengan pH antara 4,7-5,3.

 

Pohon contoh yang digunakan sebanyak 101 pohon dengan sebaran diameter 18,5-49,4 cm dan tinggi antara 14,7-24 m.  Pertimbangan yang digunakan Qirom dan Supriyadi dalam penentuan pohon contoh antara lain pohon sehat, tidak cacat dan bebas dari gangguan pertumbuhan.

 

Dimensi pohon yang diukur yakni diameter setinggi dada(dbh) dan tinggi total. “Pengukuran tinggi menggunakan haga meter dan diameter menggunakan Spiegel Relaskop Bitterlich (SRB). SRB adalah alat optis sehingga diameter tidak ditentukan secara langsung”, papar Qiromdalamjurnaltersebut. Lebih lanjut, Qirom memaparkan bahwa pengukuran dilakukan terhadap pohon berdiri (non destructive)  sehingga pohon contoh tidak ditebang.

 

Hasil penelitian Qirom dan Supriyadi menyebutkan model terbaik penduga volume yaknimodeldengan peubah diameter dan tinggi. Penentuan model terbaik berdasarkan beberapa parameter yang sudahbanyakdiguanakanparailmuwandalammenentukan model terbaik, antara lain nilai standar error, Root Mean Square Error (RMSE), Aike Information Criterion (AIC) dan bias dugaan.

 

Namun demikian, berdasarkan pertimbangan kepraktisan di lapangan, akanlebihefektifapabilakitamenggunakanpersamaan dengan variabel diameter pohon saja. Pengambilan data diameter di lapangan lebih mudah, cepat dan murah dengan tingkat akurat yang tinggiseperti pada hasil penelitian Zowdie  yang dikutip Qirom dan Supriyadi dalam jurnal penelitian mereka.Berdasarkan model persamaan yang telahdibuat, diperoleh data potensi volume pohon yaituberkisar antara 21,66 m/ha-113,56 m/ha untuk umur  4-7 tahun.

 

Keberadaan model penduga volume pohon dan potensi tegakan nyawai ini akan memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan hutan tanaman jenis lokal di Kalimantan. “ Model ini bisa digunakan untuk menyusun tabel volumelokal dan standar jenis nyawai di KalimantanTimur. Model ini sebagai alat yang mudah mendapatkanpotensi tegakan jenis nyawai secaracepat dan akurat” papar Qiromdalamjurnaltersebut(JND)***.

 

 

 

Hubungi lebih lanjut :

Muhammad Abdul Qirom dan Supriyadi

Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru

URL  : http://foreibanjarbaru.or.id

Jl.  A. Yani  km. 28,7 Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Telp /Fax : (0511) 4707872 / (0511) 4707872

Selamat Menunaikan Amanah “Tri Wira Yuwati dan M. Abdul Qirom” Ketua Kelti BPK Banjarbaru Terpilih Periode 2014-2017

Banjarbaru, BPK (3/11/2014);

Menjelang berakhirnya masa kerja ketua kelompok peneliti  (Kelti)  di Balai Peneltian Kehutanan (BPK) Banjarbaru, dilakukan acara pemilihan ketua kelti baru periode 2014-2017. Terpilih sebagai ketua kelti baru adalah Tri Wira Yuwati, S.Hut, M.Sc  sebagai ketua kelti budidaya hutan dan Muhammad Abdul Qirom, S.Hut, M.Si sebagai ketua kelti Manajemen Hutan.  Acara berlangsung di ruang rapat BPK Banjarbaru, Senin 3 Nopember (3/11/2014).

Kelti BPK banjarbaru periode 2014-2017 ini mengalami perubahan dari periode sebelumnya. “Pada periode 2011-2014, terdapat 3 (tiga) kelti yaitu budidaya hutan, perlindungan hutan dan sosial ekonomi kelembagaan. Sedangkan pada periode 2014-2017, terdapat 2 (dua) kelti yaitu manajemen hutan dan budidaya hutan”, papar Ir. Tjuk Sasmito Hadi, M,.Sc, kepala Balai BPK Banjarbaru.  Perubahan dilakukan dengan melihat jumlah SDM dan kepakaran dari peneliti-peneliti serta bidang penelitian yang dilakukan di BPK Banjarbaru.

Ketua kelti terpilih, Tri Wira Yuwati dan M. Abdul Qirom adalah peneliti muda di BPK Banjarbaru yang telah cukup lama berkecimpung dalam dunia penelitian. Tri Wira Yuwati memiliki kepakaran mikrobiologi, sedangkan M. Abdul Qirom memiliki kepakaran Biometrika Hutan.

“Saya sangat berterimakasih mendapatkan kepercayaan dari teman-teman untuk menjadi ketua kelti budidaya hutan” ungkap Triwira. Lebih lanjut Triwira mengemukakan akan berusaha menjaga amanah ini dan mengupayakan agar kelti budidaya  bisa menjadi lebih baik lagi. Beberapa program yang akan dijalankan diantaranya menghidupkan forum komunikasi kelti, dengan memperbanyak diskusi dan sharing informasi untuk peningkatan pengetahuan ilmiah peneliti. Selain itu juga akan menghidupkan pembinaan antara peneliti senior dan junior maupun antara peneliti teknisi supaya ada peningkatan kapasitas fungsional terutama untuk lingkup kelti budidaya hutan.

Hal serupa diungkapkan M. Abdul Qirom, ketua kelti Manajemen Hutan terpilih.”Saya berterimakasih atas penghargaan dan kepercayaan dari teman-teman dan BPK Banjarbaru” ujar M. Qirom. Qirom berharap kelti ini lebih berperan dalam kebijakan balai terutama peningkatan hasil dan kualitas penelitian, peningkatan sumber daya manusia (SDM) peneliti dan teknisi, peningkatan komunikasi antar fungsional dan non fungsional. Dengan demikian balai ini bukan hanya “dimiliki” oleh salah satu golongan tetapi semua yang ada di balai adalah milik kita semua. “Semoga Balai ini menjadi balai yang kompak, saling menghargai dan terdepan dalam penyediaan iptek kehutanan,” tandas Qirom .

Ketua kelti sendiri mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu institusi litbang. Tugas ketua kelti antara lain : mengkoordinir penyusunan pelaksanaan, monitoring dan evaluasi penelitian maupun kajian lingkup kelti sesuai dengan kebijakan Kepala Badan;  menandatangi Proposal Penelitian Tim peneliti (PPTP), Rencana Penelitian Tingkat Peneliti (RPTP) dan Laporan Hasil Penelitian (LHP) setelah diperbaiki sesuai dengan saran-saran Tim Pakar; mengusulkan peneliti, calon peneliti, teknisi litkayasa dan calon teknisi litkayasa untuk menghadiri forum ilmiah/seminar yang relevan di bidang keahliannya; memberikan saran perbaikan  dan rekomendasi untuk artikel publikasi ataupun artikel bahan seminar/lokakarya yang disusun dan diajukan oleh peneliti dikeltinya; dan beberapa tugas lainnya.

Selamat kepada ketua kelti yang baru. Selamat bertugas, selamat menunaikan amanah baru dan semoga bisa membawa perubahan yang lebih baik pada BPK Banjarbaru. Salam rimbawan***(JND).

MODEL AGROSILVOFISHERY DI LAHAN GAMBUT

Ada beberapa model agrosilvofishery yang telah dikembangkan BPK Banjarbaru di beberapa tipologi lahan gambut. Model ini dapat dikembangkan dengan dua (2) teknik, yaitu surjan/kolam gali (gambar kiri dan kanan) serta kolam terpal (gambar tengah).

Teknik surjan dikembangkan di tipologi lahan gambut tipis (rawa pasang-surut). Sedangkan kolam terpal dapat dikembangkan di semua tipologi lahan gambut.

Model agrosilvofishery dengan teknik surjan (kolam gali) dikembangkan oleh BPK Banjarbaru  bekerjasama dengan Bapak Rapingun di Desa Mantaren, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Komponen penyusun agrosilvofishery ini adalah: (a) tanaman keras (pohon): jelutung rawa (Dyera polyphylla Miq. Steenis), gaharu (Aquilaria malacencis) dan durian, (b) tanaman semusim: salak, (c) ikan: lele, patin dan nila. Jenis ikan lain yang berpotensi untuk dikembangkan adalah papuyu (Anabas testudineus), baung (Mystus nemurus), ikan gabus (Channa spp.), sepat (Trichogaster spp.), dan jelawat (Ceptobarbus hoeveni). Riap diameter batang jelutung rawa pada pola ini mencapai 1,6 cm per tahun, sedangkan riap tinggi batangnya mencapai 120 cm per tahun.

Model agrosilvofishery dengan teknik kolam terpal dikembangkan bekerjasama dengan Bapak Sutikno dari Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah.

Selain itu, BPK Banjarbaru juga telah mengembangkan minaayam. Model minaayam ini dikembangkan di lahan gambut tebal bekerjasama dengan Bapak Sukardi, Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren, Kabupaten Pulang Piau, Provinsi Kalimantan Tengah.

Analisis sederhana biaya pembuatan kolam terpal untuk budidaya ikan patin dapat dilakukan sebagai berikut. Pertama, Biaya Produksi. Total biaya produksi adalah sebesar Rp 3.700.000,- untuk pengeluaran berikut: (1) pembelian terpal ukuran 8 x 14 m; (2) lem terpal; (3) kayu dan (4) upah pembuatan kolam dan pemasangan terpal. Harga benih ikan patin di Kelurahan Kalampangan adalah Rp 600,- sampai dengan Rp 1.000,-. Kebutuhan pakan selama 6 bulan budidaya ikan patin adalah sebanyak 90 karung pakan ikan. Harga 1 karung pakan ikan patin adalah Rp 270.000,-.

Kedua, Pendapatan. Dengan jumlah awal 3.000 – 3.500 ekor benih patin, setelah dipelihara selama 6 bulan dengan konsumsi pakan seperti disebutkan di atas dapat menghasilkan panenan ikan patin sebanyak 2,3 sampai dengan 2,5 ton ikan patin. Harga per kg ikan patin di Kelurahan Kalampangan adalah Rp 15.000,-, sehingga diperoleh hasil kotor sebanyak Rp 34.500.000,- sampai dengan Rp 37.500.000,-.

Berdasarkan pengalaman Bapak Sutikno di Kelurahan Kalampangan, yang merupakan mitra penelitian ini, budidaya per 3.000 ekor patin selama 6 bulan dengan harga jual per kg Rp 15.000,- menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 10.000.000,- sampai Rp 15.000.000,-.

 

Gambar 1 Model agrosilvofishery di beberapa tipologi lahan gambut. Kiri: teknik kolam gali di lahan gambut tipis. Tengah: teknik kolam terpal di lahan gambut tebal. Kanan: teknik kolam gali dikombinasikan dengan kandang ayam (minaayam) di lahan gambut tebal.
Model agrosilvofishery diatas termasuk bagian dari pengembangan agroforestry di lahan gambut. Pengembangan agroforestry tersebut penting untuk memproduktifkan lahan gambut

 

TEKNIK STRANGULASI, CARA UNTUK MERANGSANG PEMBUNGAAN PADA POHON GEMOR

Teknik pencekikan atau yang dikenal degan strangulasi, merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mempercepat proses pembungaan dan pembuahan pada pohon gemor (Notaphoebe coriacea).  Hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwanto Budi S ini diterbitkan dalam majalah semi popular Galam, volume VI nomor 2 tahun 2013. Selain itu, Purwanto juga menyimpulkan bahwa berdasarkan pengamatan, periode berbuah gemor di Tumbang Nusa terjadi di pada awal bulan juni sampai akhir juli.

Gemor merupakan salah satu jenis pohon hutan penghasil hasil hutan non kayu yang bernilai ekonomis.  Bagian pohon yang berpotensi obat yaitu daun, kulit buah dan kulit kayunya. “ Ekspor gemor pada tahun 2011 tercatat $ 5.368” papar Purwanto.

Selama ini cara pengambilan gemor di alam dilakukan secara ekstraktif dengan menebang keseluruhan pohon gemor. Hal ini mengakibatkan kelangkaan gemor di alam. Informasi masalah pembungaan yang masih kurang, menjadi salah satu faktor belum banyak dilakukan budidaya. “Dengan demikian penelitian tentang  pembungaan dan pembuahan penting untuk dilakukan” tandas Purwanto.

Dalam penelitiannya ini Purwanto mencoba metode pencekikan, dengan mengupas kulit  batang pohon  dan pemangkasan akar gemor. “Perlakukan ini dilakukan satu tahun sebelumnya atau tahun 2011”, jelas Purwanto.  Kulit batang dikelupas mengelilingi separuh diameter pohon, dan pada bagian yang dilukai kambium dibersihkan. Pemangkasan akar dilakukan dengan memotong horisontal akar. Tujuan dari perlukaan pada batang agar transportasi makanan dari batang menuju akar menjadi lebih lambat, sehingga terjadi penumpukan hasil fotosintesis di tajuk yang akan menstimulasi pembungaan.  Hasil perlakukan ini nampak pada tahun berikutnya,  yaitu berbuahnya pohon gemor.

TURUT BERDUKA CITA

Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un, kami keluarga besar BPK Banjarbaru turut berduka cita atas wafatnya Bapak Dr.Kade Sidiyasa, Ibu Ir. Agatha Susilowati, MM, Ibu Dr. Magdalena S.Si,MSc, dan Bapak Nanda. Semoga keluarga yang ditinggalkan selalu diliputi ketabahan dan kesabaran.

PEMBAHASAN LAPORAN HASIL PENELITIAN 2013 DAN RENCANA PENELITIAN 2014

BPK Banjarbaru mengawali 2014 dengan kegiatan pembahasan laporan hasil penelitian pada hari kamis – jumat tanggal 23-24 Januari 2014 di Hotel Rodhita Banjarbaru. Kegiatan ini menjadi agenda rutin yang dilaksanakan oleh seksi program dan evaluasi setiap awal tahun. Kegiatan diawali dengan acara pembukaan oleh Bapak Kepala BPK Banjarbaru. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pentingnya kegiatan ini untuk menjadi masukan dan perbaikan laporan hasil penelitian dari para peneliti di BPK Banjarbaru.

Kegiatan pembahasan laporan ini dihadiri oleh tim koordinator dari Puslitbang Produktivitas Hutan, diantaranya Prof. Dr. Hj. Nina Mindawati, MS, Dr. Darwono ; dari Puslitbang perubahan iklim dan kebijakan kehutanan adalah Dr.Ir.Satria Astana,MSc dan dari tim pakar dari Fahutan UNLAM yang hadir adalah Prof.Dr.H. Yudi Firmanul Arifin, MSc, EmmyWinarni, MSi Hamdani Fauzi,S.Hut,M.Si.  Para koordinator dan tim pakar memberikan kritik, masukan dan saran untuk 21 laporan hasil penelitian yang disampaikan oleh para peneliti. Selain itu panitia juga mengundang instansi lain yaitu semua UPT Lingkup Kemenhut dan dinas kehutanan provinsi Kalsel. Dengan harapan para pengguna mengetahui sejauh mana hasil penelitian yang telah dicapai oleh BPK Banjarbaru.

Cukup dengan jeda 2 hari, pada tanggal 27-30 Januari acara dilanjutkan dengan kegiatan pembahasan Rencana Penelitian dan kegiatan non penelitian 2014 di Hotel Rodhita vanjarbaru dan di Ruang pertemuan BPK Banjabaru untuk kegiatan non penelitian.

(more…)

KHDTK TUMBANG NUSA TERKENAL SAMPAI NORWEGIA….!

Tumbang Nusa. Senin 16 Desember 2013, Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa kedatangan tamu jauh dan penting  yaitu Duta besar Norwegia untuk Indonesia beserta staf dan wakil dari Kementerian Lingkungan Hidup serta Asisten Gubernur Kalteng bidang Lingkungan. Mr. Stig Traavik, duta besar Norwegia tersebut sangat antusias mengamati kondisi KHDTK Tumbang Nusa. Dalam kunjungan tersebut beliau disambut dengan ramah, langsung oleh  Kepala BPK Banjarbaru Ir. Tjuk Sasmito Hadi, turut serta para peneliti BPK Banjarbaru diantaranya  Dr. Acep Akbar, MP, Purwanto BS, S.Hut, MSc, M.Abdul Qirom, S.Hut, Msi. Selain itu turun pula dalam penyambutan tersebut Riswan Ariani,S.Hut , penanggung jawab KHDTK Tumbang Nusa, Ir. Sukhyar Faidil Kasi Sarana Prasarana dan Yusep Gerry Laksono koordinator KHDTK, dan staf BPK Banjarbaru terkait lainnya.

Suatu kebanggaan bagi BPK Banjarbaru akan kunjungan ini mengingat maksud kedatangan rombongan dubes Norwegia adalah untuk mengetahui Pengelolaan Hutan Rawa Gambut lestari terkait dengan kegiatan REDD+ khususnya di Kalimantan Tengah. KHDTK Tumbang Nusa dinilai telah sukses melakukan kegiatan penelitian dan menjadi contoh untuk rehabilitasi Hutan Rawa Gambut.

(more…)

RESTORASI HUTAN MANGROVE DI KALIMANTAN SELATAN OLEH WAWAN HALWANY

 

Hutan mangrove merupakan  sebutan untuk sekelompok  tumbuhan   hidup pada habitat yang dipengaruhi oleh kondisi pasang surut.  Fungsi dan manfaat mangrove bagi kehidupan manusia khususnya bagi masyarakat sekitar pesisir sangat besar diantaranya adalah sebagai pelindung dari terjangan angin  dan gelombang, penstabil garis pantai, dan mendukung kegiatan perikanan (Lewis III, 2005).  Luas hutan mangrove di dunia sekitar 16,5 juta -18,1 juta ha.  Hutan mangrove yang ada di Indonesia sekitar 2,5 juta – 4,25 juta ha (merupakan kawasan hutan mangrove  terluas di dunia) dan luas hutan mangrove di Kalimantan Selatan sekitar 116,824 ha.  

Hutan mangrove di beberapa negara  banyak mengalami  degradasi  untuk peruntukkan lainnya.  Begitu juga yang terjadi  di Indonesia.   Konversi hutan mangrove di Kalimantan Selatan banyak dijadikan lahan tambak, pemukiman, pelabuhan dan peruntukkan lainnya.  Berdasarkan data hasil interprestasi citra satelit 2006 dalam  BPDAS Barito  (2006)  kondisi hutan mangrove yang rusak sudah mencapai 90% lebih.   Kegiatan restorasi/rehabilitasi  hutan mangrove merupakan kegiatan yang penting untuk dilakukan.   (more…)