6 JUDUL PENELITIAN BPK BANJARBARU AKAN MENJAWAB PERMASALAHAN KEHUTANAN

BPKBJB, 13/05/15. Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru hari selasa tanggal 13 Mei 2015 menyelenggarakan Rapat Pembahasan Rencana Operasional Penelitian (ROP) tahun 2015. Rapat yang diselenggarakan di aula kantor BPK Banjarbaru ini dihadiri oleh karyawan balai, mitra kerja (BP2HP, BPDAS Barito, BPTH, Balitbangda Prov Kalsel, dan KPHL Hulu Sungai Selatan).   Dalam pembahasan ROP ini hadir sebagai pembahas dari UNLAM Dr. Mahrus Ariadi, Dr. Hamdani Fauzi dan Dr. Nina Yulianti dari UNPAR.

Acara dimulai dengan sambutan Kepala Balai, Ir. Tjuk Sasmito Hadi, M.Sc. Dalam sambutan pembukaan, Kepala Balai menyampaikan bahwa penelitian tahun ini berbeda dengan sebelumnya. “ Tahun sebelumnya  ada 16 judul sekarang hanya 6 judul “ kata Kepala Balai. Namun dalam 6 judul penelitian tersebut sudah mencakup berbagai aspek.  Dari keenam judul tersebut, 4 judul merupakan penelitian baru, 2 judul merupakan penelitian pengembangan. “Harapannya hasil penelitian ini dapat menjawab Indikator kerja kementerian dan juga  pemerintah daerah”, lanjut Tjuk. Ke enam judul penelitian tersebut diharapkan dapat menjawab masing-masing persoalan. Mengakhiri sambutannya kabalai menyatakan bahwa  penelitian akan di mulai dari problem riil yang terjadi di masyarakat. “Dulu problemnya dari peneliti, sehingga tidak dapat  menjawab pertanyaan di masyarakat” lanjut Tjuk. Harapannya hasil penelitian ini pun mudah dimengerti oleh masyarakat . “Jadi harus ada upaya untuk membuat hasil penelitian dengan bahasa yang dapat dimengerti masyarakat”, pungkas Tjuk.

Judul penelitian yang pertama dipresentasikan yaitu Bioprospeksi Mikroba Hutan Rawa Gambut. Peneliti  yang  melaksanakan  Tri Wira Yuwati, S.Hut, M.Sc dan tim. Lokasi penelitian ini yaitu di KHDTK Tumbang Nusa Kalimantan Tengah dan Taman Nasional Sebangau. Penelitian ini  bertujuan untuk melakukan upaya konservasi melalui pendataan, koleksi dan pemanfaatan mikroba fungi asal hutan rawa gambut dan mendapatkan isolat fungi mikoriza dan endofit yang potensial untuk restorasi hutan rawa gambut terdegradasi.

Selanjutnya, M. Abdul Qirom  S. Hut, M.Si mempresentasikan penelitian yang berjudul Pengelolaan dan Pengusahaan KPHL  Berbasis Karakteristik Ekosistem (Studi kasus di KPHL Hulu Sungai Selatan). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memberikan kontribusi dalam strategi percepatan pengelolaan dan pengusahaan KPHL berbasis jasa lingkungan dengan tetap mempertahankan keanekaragaman hayati dan kearifan masyarakat lokal. Penelitian ini tentunya akan menjadi jawaban bagi KPHL HSS agar dapat terkelola secara efektif dan memberi nilai tambah bagi masyarakat sekitarnya.

Sesi kedua membahas penelitian dengan judul Model Pengelolaan Hutan Rawa Gambut Berisiko Kecil Kebakaran. Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Acep Akbar, MP dan tim. Kebakaran hutan yang rutin terjadi  terutama di lahan gambut,  menjadi masalah bagi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Masukan yang berdasar dan melalui penelitian yang meyakinkanlah yang dinanti pemerintah dalam masalah kebakaran hutan ini. Harapannya kebakaran hutan sedikit demi sedikit dapat tertanggulangi.

Setelah itu dipresentasikan penelitian pengembangan yang berjudul Pengembangan Gaharu oleh Beny Rahmanto, S.Hut. Gaharu sering ditanyakan di daerah. Hampir setiap kabupaten di Kalimantan Selatan mengembangkan gaharu, sehingga kita ingin melihat gaharu yang dikembangkan  apakah sesuai  dengan jalur  yang benar.

Pada sesi ketiga, Puwanto Budi Santosa, S. Hut, M. mempresentasikan penelitian yang berjudul Teknologi Budidaya Gemor. Gemor, hasil hutan bukan kayu di hutan rawa gambut  makin lama makin menurun potensinya sehingga harus diteliti apa penyebabnya. Selain itu gemor hanya  digunakan untuk obat nyamuk dan hiu. “ Tapi saya tidak yakin hanya untuk itu” kata Purwanto. Orang jepang semangat untuk meneliti gemor, ketika  menurun ekspornya.  Diyakini ada khasiat lain yang ada pada gemor. Dan ini yang akan diteliti, khasiat gemor untuk diabetes mellitus selain teknologi budidanya.

Selanjutnya Junaidah S. Hut, M.Sc mempresentasikan penelitian pengembangan yang berjudul Teknologi Silvikultur dan Potensi Nyawai. Pengembangan nyawai  akan dikaitkan dengan isu pangan dari hutan. Apakah nyawai dapat dijadikan sebagai  sumber pangan atau obat-obatan. Penelitian pengembangan ini berlokasi di KHDTK Riam Kiwa.

Kegiatan ROP ini diakhiri pada pukul 19.00 WITA. Walaupun demikian antusiasme dari peserta baik dari BPK Banjarbaru dan dari instansi yang lain luar biasa. Sampai akhir acara semua kursi masih terisi. Dan acara berakhir dengan tepuk tangan meriah untuk Junaidah S.Hut, MSc karena ROP nya dinilai yang terbaik dan dapat dijadikan contoh bagi yang lain.

Ratusan Mahasiswa Fahutan Praktek di BPK Banjarbaru

20150414_091457[1]

BPK BJB, 14/04/2015.  Seratus enam puluh tujuh mahasiswa kehutanan Universitas  Lambung Mangkurat (UNLAM) hari selasa (14 April 2015) melakukan praktek mata kuliah Perlindungan Hutan di Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru. Turut serta mendampingi mereka 4 orang dosen mata kuliah tersebut , mantan menristek Prof Dr. Ir. Gusti Hatta dan 3 orang teknisi.

Rombongan Unlam diterima Kabalai di depan laboratorium BPK Banjarbaru. Kepala Balai  BPK Banjarbaru, Ir. Tjuk Sasmito Hadi, M.Sc dalam sambutannya memberi gambaran kepada mahasiswa masalah kehutanan yang sedang dihadapi. Beliau juga menjelaskan  prospek pekerjaan kehutanan di masa datang yang nantinya menjadi tugas dari rimbawan. Mengakhiri sambutannya Kabalai mengajak mahasiswa untuk selalu tekun belajar, mencintai lingkungan dan turut aktif dalam upaya peneyelamatan lingkungan.

Setelah sambutan Kabalai, Mantan Menretistek yang asli orang banua, Prof. Dr. Ir Gusti Hatta, didaulat untuk memberikan sekapur sirih pengantar. Beliau mengucapkan terimkasih atas sambutan balai dalam menerima mahasiswa Unlam. Beliau menghimbau agar mahasiwa kehutanan mengikuti praktek perlindungan hutan dengan tekun dan belajar kepada para pakar BPK Banjarbaru masalah perlindungan hutan. Harapannya para mahasiswa menjadi generasi penerus untuk menjaga dan melestarikan hutan.

Dr. Acep Akbar, MP, peneliti senior BPK Banjarbaru mengawali kegiatan praktek ini dengan memberikan pandangan sekilas mengenai perlindungan hutan. Setelah paparan dari Dr. Acep Akbar, untuk mengefektikan kegiatan praktek ini, mahasiswa dibagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan materi yang akan dipraktekan. Masing-masing materi dipraktekkan selama 1 jam. Jadi 3 kelompok tersebut saling rolling setiap 1 jam. Adapun materi yang dipraktekkan adalah pengendalian kebakaran hutan, pengendalian hama penyakit dan penanganan konflik.   Materi Pengendalian kebakaran hutan disampaikan oleh Dr. Acep Akbar.  Materi penelitian konflik kehutanan oleh Marinus Kristiadi Harun, S. Hut, M. Si, sedangkan materi diagnosa hama penyakit oleh Benny Rahmanto, S. Hut dan Fajar Lestari, S. Hut.

Praktek  pengendalian kebakaran hutan dibagi menjadi dua, yang pertama penelitian pencegahan kebakaran hutan.  Praktek yan gdilakukan dalam pencegahan kebakaran ini adalah mengukur parameter penelitian kebakaran hutan. Parameter yang diukur antara lain : temperatur dan kelembaban dengan alat ukur thermohigrometer, panasnya api dengan alat ukur termometer inframerah, kadar air bahan bakar dengan alat ukur mosturemeter, intensitas cahaya degan lightmeter dan kecepatan angin dengan anemometer. Parameter tersebut diukur dalam Early Warning System (EWS) dan mengetahui dampak emisi karbon jika hutan terbakar. Yang kedua pemadaman kebakaran hutan, para   mahasiswa diperkenalkan peralatan tangan sederhana untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Hama dan Penyakit tanaman hutan yang disampaikan oleh dua peneliti yaitu Fajar lestari, S.Hut dan Beny Rahmanto,S.Hut dilaksanakan di dua tempat, yaitu di persemaian dan di arboretum BPK Banjarbaru. Mahasiswa diajak mengenali tanda dan gejala hama penyakit pada bibit tanaman di persemaian, dan  penyebabnya. Demikian juga di arboretum,  mahasiswa diajak mengenali tanda dan gejala hama penyakit juga namun pada tanaman/pohon. Tanaman yang diteliti adalah jenis alaban, mahon, mersawa ,  dan tanaman penghasil gaharu.  Ada tambahan praktek yang dilakukan di arboretum yaitu pengenalan perangkap serangga (Light Trap)

Konflik Lahan dan Sosial kemasyarakatan hutan disampaikan oleh Marinus K Harun, Msi dimana para mahasiswa di ajak berdiskusi dan memahami  penelitian konflik kehutanan. Di dalamnya dibahas tentang pengertian konflik, teori konflik sumberdaya alam, alat bantu analisis konflik dan perumusan masalah konflik kehutanan.  Selain itu dibahas juga rancangan penelitian konflik, teknik analis data dan contoh penelitian konflik dengan contoh kasus di KHDTK Riam Kiwa dan KPHP model Banjar.

Lelah bercampur keceriaan di wajah para mahasiswa ketika acara praktek diakhiri dengan demonstrasi penggunaan alat sederhana pemadam kebakaran, seperti kepyok, kapak, garu, dan pompa punggung jufa oleh Dr. Acep Akbar, MP. Dengan serius mereka mencermati cara penggunaan alat-alat yang dijelaskan oleh Acep Akbar. Alat-alat tersebut akan dipraktekkan pada praktium perlindungan hutan lanjutan di KHDTK Riam Kiwa.

Akhinya praktikum berakhir pada pukul 12.30 wita. Para mahasiswa dengan lahap menikmati hidangan makan siang yang sudah disiapkan. Ada yang duduk dibawah pohon, di parkiran , dihalaman perpustakaan dan lain-lain.

Belajar Hutan sejak Dini bersama BPK Banjarbaru

BPK Banjarbaru, 01/04/2015. 134 anak dan 14 guru pendamping TK. Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA)  Landasan Ulin berkunjung ke BPK Banjarbaru pada tanggal 12/03/2015 untuk mengenal hutan, tanaman dan lingkungan sejak dini. Tentu, BPK Banjarbaru menyambut baik kunjungan tersebut.IMG_2188

Kegiatan ini dikemas khusus untuk anak-anak. Maka tema yang diangkat “Bermain sambil belajar untuk mengenal hutan”. Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor dan Arboretum BPK Banjarbaru ini dikemas sedemikian rupa oleh para peneliti, teknisi dan seksi Data Informasi dan Kerjasama (DIK). Harapannya anak-anak mendapat pengalaman yang berbeda dengan aktivitas yang dilakukan sehari-hari di sekolah. Berikut kegiatan yang dilakukan dalam kunjungan TK. Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA)  Landasan Ulin ke BPK Banjarbaru.

Mengenal Hutan

Pada sesi ini, anak-anak diajak berkeliling di areal arboretum BPK Banjarbaru.  Pendamping dari BPK Banjarbaru mengajak anak-anak utuk mengetahui  jenis-jenis pohon, buah, serta satwa yang ada di sekitar arboretum

Mengenal Satwa

Satwa merupakan bagian penting dari hutan, oleh karena itu pengenalan hutan rasanya tak lengkap tanpa dibarengi pengenalan satwa. Ular phyton dan laba-laba merupakan jenis satwa yang diperkenalkan pada sesi ini. Selain dua jenis satwa ini, anak-anak juga diajak mengenal jenis hewan lain melalui gambar yang disediakan panitia.

Menanam Pohon

Sesi ini bertujuan untuk memberi pengalaman anak untuk membuat bibit tanaman dan menanam. Keceriaan dan antusiasme anak-anak tampak terlihat saat mengikuti sesi ini. Anak-anak diajak menanam benih yang telah disemai ke dalam polybag yang sudah disediakan.  Selanjutnya anak-anak didemontrasikan cara menanam pohon.

Pemutaran Film tentang Hutan

Setelah melakukan aktivitas pengenalan satwa, praktik menanam pohon dan berjalan-jalan di arboretum, anak-anak diajak untuk  beristirahat sambil mengikuti sesi pemutaran film. Pada sesi ini diputar film dengan durasi dua menit. Film yang diputar adalah film tentang hutan, hewan dan manusia. Sesi ini juga diselipi beberapa kuis yang menguji wawasan anak-anak tentang satwa dan tumbuhan.

 

Meskipun beberapa anak tampak lelah setelah mengikuti kegiatan ini, tak bisa ditutupi rasa senang dari peserta setelah mengikuti seluruh sesi acara. Pada sesi penutupan Ibu Retno, Kepala sekolah  TK. Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA)  Landasan Ulin mengucapkan terimakasih atas sambutan yang luar biasa. “Kegiatan ini sangat bermanfaat, dan anak-anak kami sangat senang berkunjung ke BPK Banjarbaru” ujar Ibu Retno.

Mewakili Kepala BPK Banjarbaru, Kepala Seksi DIK Ibu Winingtyas Wardani menyampaikan “ semoga informasi yang disampaikan dapat bermanfaat dan anak-anak dapat memahami pentingnya menjaga hutan dan lingkungan”. Sebagai kenang-kenangan, BPK Banjarbaru memberikan cinderamata berupa 20 bibit pohon tanjung kepada Ibu Kepala sekolah untuk ditanam di sekolah.

Hutan dan segala isinya menyimpan berbagai manfaat besar bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, pengetahuan tentang hutan dan kecintaan terhadap hutan sepatutnya dimiliki oleh setiap orang, termasuk juga anak-anak. ***Saf-Fzh

 

Penggunaan Citra Radar Alos Palsar Akurat dalam Mengukur Simpanan Karbon Hutan Tanaman

BPK Banjarbaru (Banjarbaru, 27022015) Penggunaan Citra Radar Alos Palsar untuk menduga simpanan karbon menghasilkan dugaan yang cukup akurat. Teknologi ini dapat digunakan untuk mengukur atau monitoring persediaan karbon pada tegakan hutan tanaman. Demikian disampaikan M. Abdul Qirom, M. Buce Saleh dan Budi Kuncahyo dalam Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.9 No. 3  September 2012 Hal : 121 – 134.
Saat ini luas hutan tanaman di dunia diperkirakan telah mencapai lebih dari 130 juta ha, dengan laju pertambahan rata-rata mencapai 10,5 juta ha/tahun yang menyebar di 124 negara dengan potensi karbon mencapai 11,8 Pg (Penta gram). Teknologi perhitungan cadangan karbon yang akurat dengan biaya yang murah dan waktu yang cepat saat ini sangat diperlukan untuk mendukung upaya mitigasi dari hutan tanaman. Penggunaan teknologi penginderaan jarak jauh selama ini sudah banyak digunakan, namun  masih terkendala dengan kualitas citra optik yang jelek sehingga data tidak akurat.

Namun kini, kendala tersebut sekarang sudah dapat diatasi dengan penggunaan citra berbasis radar. “Kualitas citra optik sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada saat peliputan seperti tutupan awan sehingga data yang dihasilkan kurang bagus.  Kekurangan ini dapat dihindarkan dengan menggunakan citra berbasis radar yang tidak terpengaruh oleh tutupan awan sehingga kualitas data yang digunakan lebih baik”, papar Qirom dalam jurnal tersebut. Salah satu citra berbasis radar yang bisa digunakan adalah citra radar alos palsar.

ALOS (Advanced Land Observing Satelite) adalah satelit yang mempunyai karakteristik unik untuk misi pemetaan. Satelit ALOS dilengkapi dengan tiga buah sensor penginderaan jauh dan subsistem pendukung misi untuk mencapai misi utama ALOS. Tiga buah sensor tersebut terdiri dari dua buah sensor optik yaitu sensor PRISM (Panchromatic Remote Sensing Instrument for Stereo Mapping) dan sensor AVNIR-2 (Advanced Visible and Near Infrared Radiometer type-2) serta sebuah sensor radar atau gelombang mikro yaitu PALSAR (Phased Array type L-band Syntetic Aperture Radar). PALSAR menggunakan gelombang mikroaktif sehingga dapat melakukan observasi siang dan malam tanpa terpengaruh kondisi cuaca

Penelitian ini dilakukan di PT. Inhutani II Unit Semaras Kalimantan Selatan yang mengembangkan jenis tanaman Acacia mangium dengan jarak tanam 3×3 m dan telah memasuki rotasi ke-dua.  Lokasi penelitian mempunyai kualitas tapak yang cukup baik pada level sedang.

“Metode yang kami gunakan adalah melakukan inventarisasi persediaan karbon secara langsung yakni pembuatan plot pengukuran sebanyak 69 plot dengan luas masing-masing plot seluas 0,1 Ha tersebar pada beberapa umur. Hasil inventarisasi tersebut digunakan untuk membentuk hubungan dengan nilai polarisasi dari citra Alos Palsar”, papar Qirom. Lebih lanjut, Qirom memaparkan bahwa pendugaan simpanan karbon dengan aplikasi teknologi penginderaan jarak jauh merupakan analisis lanjutan setelah pada citra tersebut dilakukan sejumlah proses analisis citra.

Penggunaan Citra Radar Alos Palsar Akurat dalam Mengukur Simpanan Karbon Hutan Tanaman Peta Sebaran Simpanan Karbon Areal PT. Inhutani II Kalimantan Selatan (Sumber : Qirom)

 

Dari hasil inventarisasi langsung di lapangan diketahui pada umur 1-9 tahun potensi simpanan karbon total per Ha di hutan tanaman A. mangium berkisar antara 35,48 -51,01 ton/ha dengan rata-rata 43,24 ton/ha. Setelah melalui  proses analisa data yang cukup rumit dan panjang, akhirnya diperoleh persamaan alometrik untuk menghitung simpanan karbon menggunakan citra alos palsar dengan tingkat keakuratan yang tinggi. Potensi sebaran simpanan karbon total terbesar berdasarkan aplikasi citra Alos Palsar yakni berkisar antara 40 – 80 ton/Ha.

Hasil penelitian Qirom, Saleh dan Kuncahyo ini berhasil menunjukkan bahwa penggunaan penginderaan jauh dengan perangkat citra alos palsar bisa digunakan untuk mengukur atau monitoring potensi cadangan karbon dengan hasil yang akurat dan cepat. “Penggunaan penginderaan jauh citra alos palsar mampu mendukung upaya hutan tanaman menjadi salah satu opsi mitigasi dalam mengurangi kenaikan karbon dioksida dan perubahan iklim global”, papar Qirom (JND) ***.

.Hubungi lebih lanjut :

Muhammad Abdul Qirom

Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru

URL  : http:// foreibanjarbaru.or.id

Jl.  A. Yani  km. 28,7 Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Telp /Fax : (0511) 4707872 / (0511) 4707872

3 Fakta Unik tentang Jamur yang Harus Anda Ketahui

 

3 Fakta Unik tentang Jamur yang Harus Anda Ketahui

3 Fakta Unik tentang Jamur yang Harus Anda Ketahui

 

Balai Penelitian Kehutanan banjarbaru

, Apa yang ada di pikiran anda saat mendengar kata jamur? Beberapa jawaban yang sering muncul adalah dekomposer, sebagaimana banyak diajarkan di pelajaran biologi saat menempuh bangku sekolah. Jamur atau dikenal juga dengan fungi memang memiliki peran utama sebagai dekomposer dalam rantai makanan, tapi tahukah anda bahwa beberapa fakta lain dari jamur yang menarik untuk anda ketahui.

Jamur sebagai Makanan

Di Indonesia, jamur tiram dan kuping merupakan jenis jamur yang paling banyak di konsumsi. Selain nikmat, harga jamur cukup terjangkau dan mengandung banyak sekali nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Jamur kerap kali menjadi makanan yang cukup bergengsi, salah satunya jamur truffle.

Jamur truffle merupakan jamur primadona di bidang kuliner. Pemanfaatannya sangat beragam, mulai dimakan langsung , dijadikan truffle oil, atau vodka. Harga jamur ini sangat fantastis, bisa mencapai $2500/pound atau sekitar 25 juta rupiah.

Jamur sebagai daya Tarik Wisata

Jamur memiliki beragam bentuk dan warna yang sangat menarik. Salah satu jamur dengan bentuk yang atraktif adalah jamur “glow in the dark” (Mycena silvaeluscens.). Jamur ini jika dilihat pada malam hari akan mengeluarkan cahaya kehijauan yang sangat menarik. Cahayanya muncul disebabkan adanya kandungan fosfor dan proses-proses fisiologis pada jamur.

Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), wisata jamur “glowing in the dark” ditawarkan sebagai salah satu wisata minat khusus, terutama di resort cikaniki. Selain di TNGHS, terdapat informasi bahwa jamur ini juga bisa di temukan di TN.Gunung Rinjani, Gunung Meja Papua, Gunung Palung Kalbar, Gunung leuser Aceh, Gunung Kerinci Sumatra, dan Tanjung Puting Kalteng .

Jamur sebagai Penyokong Pertumbuhan Tanaman

Selain sebagai decomposer tanaman yang sudah mati, jamur memiliki peran yang sangat vital dalam pertumbuhan tanaman. Hampir 90% tanaman, memiliki interaksi dengan jamur selama hidupnya. Jenis interaksi antara tanaman dan jamur yang banyak dikenal adalah mikoriza.

Hifa jamur lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan akar tanaman, sehingga dapat membantu tanaman untuk menyerap air dan nutrisi lebih baik. Berbagai penelitian juga banyak mengemukakan bahwa mikoriza memberikan banyak manfaat pada tanaman antara lain meningkatkan penyerapan unsur hara pada tanaman, memberikan ketahanan tanaman pada kondisi kekeringan air, dan juga bisa mencegah berkembanganya penyakit pada tanaman.

Bicara tentang mikoriza sebagai penyubur tanaman, Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru telah melakukan berbagai penelitian terkait mikoriza pada tanaman pada jenis-jenis rawa gambut. Salah satu peneliti BPK Banjarbaru, Tri Wira Yuwati menuturkan bahwa sudah ada beberapa jenis yang sudah diteliti interaksinya dengan mikoriza antara lain pada Pulai rawa (Alstonia pneumatophora), Ramin (Gonystylus bancanus) Punak (Tetramerista glabra), Merapat (Combretocarpus rotundatus), Medang telur (Stemonurus scorpioides Becc.), Nyatoh (Palaquium sp.), Galam (Melaleuca cajuputi) , Jelutung (Dyera polyphylla), Kapur naga (Callophylum soullattri), Bintangur (Callophylum inophylum), dan Alau (Dacrydium becarii) . Lebih lanjut, Yuwati menuturkan bahwa mikoriza juga bisa berpotensi dalam mendukung kegiatan rehabilitasi hutan rawa gambut.

Referensi :

http://www.huffingtonpost.com/2014/07/10/truffle-2500-australia-ted-smith_n_5571053.html

http://www.livescience.com/9730-glow-dark-mushrooms-discovered.html

http://beritadaerah.co.id/2014/10/31/glowing-mushrooms-di-gunung-salak/

http://en.wikipedia.org/wiki/Truffle

Cara Cepat dan Akurat Mengukur Volume Pohon dan Potensi Tegakan Nyawai (Ficus spp.)

BPK Banjarbaru (Banjarbaru, 9022015) Model penduga volume pohon dan potensi tegakan jenis nyawai (Ficus spp) terbukti mampu memberikan efisiensi waktu dan hasil yang akurat. Model penduga volume pohon dan potensi tegakan nyawai hasil penelitian Muhammad Abdul Qirom dan Supriyadi ini mampu memberikan akurasi data tinggi yang digambarkan dengan nilai koefisien determinasi sebesar 90,45%.

 

Nyawai  (Ficus spp) termasuk jenis utama penyusun hutan tropika yang sangat potensial dikembangkan untuk pembangunan hutan tanaman. Pengembangan nyawai membutuhkan informasi yang lengkap tentang kondisi tegakan, pertumbuhan dan hasil yang diperoleh pada masa yang akan datang. Penggunaan model penduga volume pohon dan potensi tegakan dapat menjadi alat yang mudah untuk mendapatkan potensi tegakan jenis nyawai secara cepat dan akurat. Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Abdul Qirom dan Supriyadi dalam Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Volume 10 No. 4 Desember 2013.

 

Muhammad Abdul Qirom adalah peneliti muda dengan bidang kepakaran silvikultur dan telah cukup lama melakukan penelitian terkait model penduga volume pertumbuhan beberapa jenis tumbuhan. Dalam penelitian model penduga volume jenis nyawai ini, qirom dibantu oleh Supriyadi, teknisi litkayasa yang selama ini sering membantu dalam penelitiannya.

 

Penelitian Qirom dan Supriyadi ini dilakukan di areal PT. ITCIKU Kartika Utama, Kalimantan Timur. Kondisi lahan penelitian bertopografi datar dengan kemiringan < 8 %. Jenis tanah termasuk dalam Podsolik Merah Kuning dengan pH antara 4,7-5,3.

 

Pohon contoh yang digunakan sebanyak 101 pohon dengan sebaran diameter 18,5-49,4 cm dan tinggi antara 14,7-24 m.  Pertimbangan yang digunakan Qirom dan Supriyadi dalam penentuan pohon contoh antara lain pohon sehat, tidak cacat dan bebas dari gangguan pertumbuhan.

 

Dimensi pohon yang diukur yakni diameter setinggi dada(dbh) dan tinggi total. “Pengukuran tinggi menggunakan haga meter dan diameter menggunakan Spiegel Relaskop Bitterlich (SRB). SRB adalah alat optis sehingga diameter tidak ditentukan secara langsung”, papar Qiromdalamjurnaltersebut. Lebih lanjut, Qirom memaparkan bahwa pengukuran dilakukan terhadap pohon berdiri (non destructive)  sehingga pohon contoh tidak ditebang.

 

Hasil penelitian Qirom dan Supriyadi menyebutkan model terbaik penduga volume yaknimodeldengan peubah diameter dan tinggi. Penentuan model terbaik berdasarkan beberapa parameter yang sudahbanyakdiguanakanparailmuwandalammenentukan model terbaik, antara lain nilai standar error, Root Mean Square Error (RMSE), Aike Information Criterion (AIC) dan bias dugaan.

 

Namun demikian, berdasarkan pertimbangan kepraktisan di lapangan, akanlebihefektifapabilakitamenggunakanpersamaan dengan variabel diameter pohon saja. Pengambilan data diameter di lapangan lebih mudah, cepat dan murah dengan tingkat akurat yang tinggiseperti pada hasil penelitian Zowdie  yang dikutip Qirom dan Supriyadi dalam jurnal penelitian mereka.Berdasarkan model persamaan yang telahdibuat, diperoleh data potensi volume pohon yaituberkisar antara 21,66 m/ha-113,56 m/ha untuk umur  4-7 tahun.

 

Keberadaan model penduga volume pohon dan potensi tegakan nyawai ini akan memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan hutan tanaman jenis lokal di Kalimantan. “ Model ini bisa digunakan untuk menyusun tabel volumelokal dan standar jenis nyawai di KalimantanTimur. Model ini sebagai alat yang mudah mendapatkanpotensi tegakan jenis nyawai secaracepat dan akurat” papar Qiromdalamjurnaltersebut(JND)***.

 

 

 

Hubungi lebih lanjut :

Muhammad Abdul Qirom dan Supriyadi

Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru

URL  : http://foreibanjarbaru.or.id

Jl.  A. Yani  km. 28,7 Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Telp /Fax : (0511) 4707872 / (0511) 4707872

Selamat Menunaikan Amanah “Tri Wira Yuwati dan M. Abdul Qirom” Ketua Kelti BPK Banjarbaru Terpilih Periode 2014-2017

Banjarbaru, BPK (3/11/2014);

Menjelang berakhirnya masa kerja ketua kelompok peneliti  (Kelti)  di Balai Peneltian Kehutanan (BPK) Banjarbaru, dilakukan acara pemilihan ketua kelti baru periode 2014-2017. Terpilih sebagai ketua kelti baru adalah Tri Wira Yuwati, S.Hut, M.Sc  sebagai ketua kelti budidaya hutan dan Muhammad Abdul Qirom, S.Hut, M.Si sebagai ketua kelti Manajemen Hutan.  Acara berlangsung di ruang rapat BPK Banjarbaru, Senin 3 Nopember (3/11/2014).

Kelti BPK banjarbaru periode 2014-2017 ini mengalami perubahan dari periode sebelumnya. “Pada periode 2011-2014, terdapat 3 (tiga) kelti yaitu budidaya hutan, perlindungan hutan dan sosial ekonomi kelembagaan. Sedangkan pada periode 2014-2017, terdapat 2 (dua) kelti yaitu manajemen hutan dan budidaya hutan”, papar Ir. Tjuk Sasmito Hadi, M,.Sc, kepala Balai BPK Banjarbaru.  Perubahan dilakukan dengan melihat jumlah SDM dan kepakaran dari peneliti-peneliti serta bidang penelitian yang dilakukan di BPK Banjarbaru.

Ketua kelti terpilih, Tri Wira Yuwati dan M. Abdul Qirom adalah peneliti muda di BPK Banjarbaru yang telah cukup lama berkecimpung dalam dunia penelitian. Tri Wira Yuwati memiliki kepakaran mikrobiologi, sedangkan M. Abdul Qirom memiliki kepakaran Biometrika Hutan.

“Saya sangat berterimakasih mendapatkan kepercayaan dari teman-teman untuk menjadi ketua kelti budidaya hutan” ungkap Triwira. Lebih lanjut Triwira mengemukakan akan berusaha menjaga amanah ini dan mengupayakan agar kelti budidaya  bisa menjadi lebih baik lagi. Beberapa program yang akan dijalankan diantaranya menghidupkan forum komunikasi kelti, dengan memperbanyak diskusi dan sharing informasi untuk peningkatan pengetahuan ilmiah peneliti. Selain itu juga akan menghidupkan pembinaan antara peneliti senior dan junior maupun antara peneliti teknisi supaya ada peningkatan kapasitas fungsional terutama untuk lingkup kelti budidaya hutan.

Hal serupa diungkapkan M. Abdul Qirom, ketua kelti Manajemen Hutan terpilih.”Saya berterimakasih atas penghargaan dan kepercayaan dari teman-teman dan BPK Banjarbaru” ujar M. Qirom. Qirom berharap kelti ini lebih berperan dalam kebijakan balai terutama peningkatan hasil dan kualitas penelitian, peningkatan sumber daya manusia (SDM) peneliti dan teknisi, peningkatan komunikasi antar fungsional dan non fungsional. Dengan demikian balai ini bukan hanya “dimiliki” oleh salah satu golongan tetapi semua yang ada di balai adalah milik kita semua. “Semoga Balai ini menjadi balai yang kompak, saling menghargai dan terdepan dalam penyediaan iptek kehutanan,” tandas Qirom .

Ketua kelti sendiri mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu institusi litbang. Tugas ketua kelti antara lain : mengkoordinir penyusunan pelaksanaan, monitoring dan evaluasi penelitian maupun kajian lingkup kelti sesuai dengan kebijakan Kepala Badan;  menandatangi Proposal Penelitian Tim peneliti (PPTP), Rencana Penelitian Tingkat Peneliti (RPTP) dan Laporan Hasil Penelitian (LHP) setelah diperbaiki sesuai dengan saran-saran Tim Pakar; mengusulkan peneliti, calon peneliti, teknisi litkayasa dan calon teknisi litkayasa untuk menghadiri forum ilmiah/seminar yang relevan di bidang keahliannya; memberikan saran perbaikan  dan rekomendasi untuk artikel publikasi ataupun artikel bahan seminar/lokakarya yang disusun dan diajukan oleh peneliti dikeltinya; dan beberapa tugas lainnya.

Selamat kepada ketua kelti yang baru. Selamat bertugas, selamat menunaikan amanah baru dan semoga bisa membawa perubahan yang lebih baik pada BPK Banjarbaru. Salam rimbawan***(JND).

MODEL AGROSILVOFISHERY DI LAHAN GAMBUT

Ada beberapa model agrosilvofishery yang telah dikembangkan BPK Banjarbaru di beberapa tipologi lahan gambut. Model ini dapat dikembangkan dengan dua (2) teknik, yaitu surjan/kolam gali (gambar kiri dan kanan) serta kolam terpal (gambar tengah).

Teknik surjan dikembangkan di tipologi lahan gambut tipis (rawa pasang-surut). Sedangkan kolam terpal dapat dikembangkan di semua tipologi lahan gambut.

Model agrosilvofishery dengan teknik surjan (kolam gali) dikembangkan oleh BPK Banjarbaru  bekerjasama dengan Bapak Rapingun di Desa Mantaren, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Komponen penyusun agrosilvofishery ini adalah: (a) tanaman keras (pohon): jelutung rawa (Dyera polyphylla Miq. Steenis), gaharu (Aquilaria malacencis) dan durian, (b) tanaman semusim: salak, (c) ikan: lele, patin dan nila. Jenis ikan lain yang berpotensi untuk dikembangkan adalah papuyu (Anabas testudineus), baung (Mystus nemurus), ikan gabus (Channa spp.), sepat (Trichogaster spp.), dan jelawat (Ceptobarbus hoeveni). Riap diameter batang jelutung rawa pada pola ini mencapai 1,6 cm per tahun, sedangkan riap tinggi batangnya mencapai 120 cm per tahun.

Model agrosilvofishery dengan teknik kolam terpal dikembangkan bekerjasama dengan Bapak Sutikno dari Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah.

Selain itu, BPK Banjarbaru juga telah mengembangkan minaayam. Model minaayam ini dikembangkan di lahan gambut tebal bekerjasama dengan Bapak Sukardi, Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren, Kabupaten Pulang Piau, Provinsi Kalimantan Tengah.

Analisis sederhana biaya pembuatan kolam terpal untuk budidaya ikan patin dapat dilakukan sebagai berikut. Pertama, Biaya Produksi. Total biaya produksi adalah sebesar Rp 3.700.000,- untuk pengeluaran berikut: (1) pembelian terpal ukuran 8 x 14 m; (2) lem terpal; (3) kayu dan (4) upah pembuatan kolam dan pemasangan terpal. Harga benih ikan patin di Kelurahan Kalampangan adalah Rp 600,- sampai dengan Rp 1.000,-. Kebutuhan pakan selama 6 bulan budidaya ikan patin adalah sebanyak 90 karung pakan ikan. Harga 1 karung pakan ikan patin adalah Rp 270.000,-.

Kedua, Pendapatan. Dengan jumlah awal 3.000 – 3.500 ekor benih patin, setelah dipelihara selama 6 bulan dengan konsumsi pakan seperti disebutkan di atas dapat menghasilkan panenan ikan patin sebanyak 2,3 sampai dengan 2,5 ton ikan patin. Harga per kg ikan patin di Kelurahan Kalampangan adalah Rp 15.000,-, sehingga diperoleh hasil kotor sebanyak Rp 34.500.000,- sampai dengan Rp 37.500.000,-.

Berdasarkan pengalaman Bapak Sutikno di Kelurahan Kalampangan, yang merupakan mitra penelitian ini, budidaya per 3.000 ekor patin selama 6 bulan dengan harga jual per kg Rp 15.000,- menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 10.000.000,- sampai Rp 15.000.000,-.

 

Gambar 1 Model agrosilvofishery di beberapa tipologi lahan gambut. Kiri: teknik kolam gali di lahan gambut tipis. Tengah: teknik kolam terpal di lahan gambut tebal. Kanan: teknik kolam gali dikombinasikan dengan kandang ayam (minaayam) di lahan gambut tebal.
Model agrosilvofishery diatas termasuk bagian dari pengembangan agroforestry di lahan gambut. Pengembangan agroforestry tersebut penting untuk memproduktifkan lahan gambut

 

TEKNIK STRANGULASI, CARA UNTUK MERANGSANG PEMBUNGAAN PADA POHON GEMOR

Teknik pencekikan atau yang dikenal degan strangulasi, merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mempercepat proses pembungaan dan pembuahan pada pohon gemor (Notaphoebe coriacea).  Hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwanto Budi S ini diterbitkan dalam majalah semi popular Galam, volume VI nomor 2 tahun 2013. Selain itu, Purwanto juga menyimpulkan bahwa berdasarkan pengamatan, periode berbuah gemor di Tumbang Nusa terjadi di pada awal bulan juni sampai akhir juli.

Gemor merupakan salah satu jenis pohon hutan penghasil hasil hutan non kayu yang bernilai ekonomis.  Bagian pohon yang berpotensi obat yaitu daun, kulit buah dan kulit kayunya. “ Ekspor gemor pada tahun 2011 tercatat $ 5.368” papar Purwanto.

Selama ini cara pengambilan gemor di alam dilakukan secara ekstraktif dengan menebang keseluruhan pohon gemor. Hal ini mengakibatkan kelangkaan gemor di alam. Informasi masalah pembungaan yang masih kurang, menjadi salah satu faktor belum banyak dilakukan budidaya. “Dengan demikian penelitian tentang  pembungaan dan pembuahan penting untuk dilakukan” tandas Purwanto.

Dalam penelitiannya ini Purwanto mencoba metode pencekikan, dengan mengupas kulit  batang pohon  dan pemangkasan akar gemor. “Perlakukan ini dilakukan satu tahun sebelumnya atau tahun 2011”, jelas Purwanto.  Kulit batang dikelupas mengelilingi separuh diameter pohon, dan pada bagian yang dilukai kambium dibersihkan. Pemangkasan akar dilakukan dengan memotong horisontal akar. Tujuan dari perlukaan pada batang agar transportasi makanan dari batang menuju akar menjadi lebih lambat, sehingga terjadi penumpukan hasil fotosintesis di tajuk yang akan menstimulasi pembungaan.  Hasil perlakukan ini nampak pada tahun berikutnya,  yaitu berbuahnya pohon gemor.

TURUT BERDUKA CITA

Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un, kami keluarga besar BPK Banjarbaru turut berduka cita atas wafatnya Bapak Dr.Kade Sidiyasa, Ibu Ir. Agatha Susilowati, MM, Ibu Dr. Magdalena S.Si,MSc, dan Bapak Nanda. Semoga keluarga yang ditinggalkan selalu diliputi ketabahan dan kesabaran.



DOKUMENTASI