3 Fakta Unik tentang Jamur yang Harus Anda Ketahui

 

3 Fakta Unik tentang Jamur yang Harus Anda Ketahui

3 Fakta Unik tentang Jamur yang Harus Anda Ketahui

 

Balai Penelitian Kehutanan banjarbaru

, Apa yang ada di pikiran anda saat mendengar kata jamur? Beberapa jawaban yang sering muncul adalah dekomposer, sebagaimana banyak diajarkan di pelajaran biologi saat menempuh bangku sekolah. Jamur atau dikenal juga dengan fungi memang memiliki peran utama sebagai dekomposer dalam rantai makanan, tapi tahukah anda bahwa beberapa fakta lain dari jamur yang menarik untuk anda ketahui.

Jamur sebagai Makanan

Di Indonesia, jamur tiram dan kuping merupakan jenis jamur yang paling banyak di konsumsi. Selain nikmat, harga jamur cukup terjangkau dan mengandung banyak sekali nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Jamur kerap kali menjadi makanan yang cukup bergengsi, salah satunya jamur truffle.

Jamur truffle merupakan jamur primadona di bidang kuliner. Pemanfaatannya sangat beragam, mulai dimakan langsung , dijadikan truffle oil, atau vodka. Harga jamur ini sangat fantastis, bisa mencapai $2500/pound atau sekitar 25 juta rupiah.

Jamur sebagai daya Tarik Wisata

Jamur memiliki beragam bentuk dan warna yang sangat menarik. Salah satu jamur dengan bentuk yang atraktif adalah jamur “glow in the dark” (Mycena silvaeluscens.). Jamur ini jika dilihat pada malam hari akan mengeluarkan cahaya kehijauan yang sangat menarik. Cahayanya muncul disebabkan adanya kandungan fosfor dan proses-proses fisiologis pada jamur.

Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), wisata jamur “glowing in the dark” ditawarkan sebagai salah satu wisata minat khusus, terutama di resort cikaniki. Selain di TNGHS, terdapat informasi bahwa jamur ini juga bisa di temukan di TN.Gunung Rinjani, Gunung Meja Papua, Gunung Palung Kalbar, Gunung leuser Aceh, Gunung Kerinci Sumatra, dan Tanjung Puting Kalteng .

Jamur sebagai Penyokong Pertumbuhan Tanaman

Selain sebagai decomposer tanaman yang sudah mati, jamur memiliki peran yang sangat vital dalam pertumbuhan tanaman. Hampir 90% tanaman, memiliki interaksi dengan jamur selama hidupnya. Jenis interaksi antara tanaman dan jamur yang banyak dikenal adalah mikoriza.

Hifa jamur lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan akar tanaman, sehingga dapat membantu tanaman untuk menyerap air dan nutrisi lebih baik. Berbagai penelitian juga banyak mengemukakan bahwa mikoriza memberikan banyak manfaat pada tanaman antara lain meningkatkan penyerapan unsur hara pada tanaman, memberikan ketahanan tanaman pada kondisi kekeringan air, dan juga bisa mencegah berkembanganya penyakit pada tanaman.

Bicara tentang mikoriza sebagai penyubur tanaman, Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru telah melakukan berbagai penelitian terkait mikoriza pada tanaman pada jenis-jenis rawa gambut. Salah satu peneliti BPK Banjarbaru, Tri Wira Yuwati menuturkan bahwa sudah ada beberapa jenis yang sudah diteliti interaksinya dengan mikoriza antara lain pada Pulai rawa (Alstonia pneumatophora), Ramin (Gonystylus bancanus) Punak (Tetramerista glabra), Merapat (Combretocarpus rotundatus), Medang telur (Stemonurus scorpioides Becc.), Nyatoh (Palaquium sp.), Galam (Melaleuca cajuputi) , Jelutung (Dyera polyphylla), Kapur naga (Callophylum soullattri), Bintangur (Callophylum inophylum), dan Alau (Dacrydium becarii) . Lebih lanjut, Yuwati menuturkan bahwa mikoriza juga bisa berpotensi dalam mendukung kegiatan rehabilitasi hutan rawa gambut.

Referensi :

http://www.huffingtonpost.com/2014/07/10/truffle-2500-australia-ted-smith_n_5571053.html

http://www.livescience.com/9730-glow-dark-mushrooms-discovered.html

http://beritadaerah.co.id/2014/10/31/glowing-mushrooms-di-gunung-salak/

http://en.wikipedia.org/wiki/Truffle

Cara Cepat dan Akurat Mengukur Volume Pohon dan Potensi Tegakan Nyawai (Ficus spp.)

BPK Banjarbaru (Banjarbaru, 9022015) Model penduga volume pohon dan potensi tegakan jenis nyawai (Ficus spp) terbukti mampu memberikan efisiensi waktu dan hasil yang akurat. Model penduga volume pohon dan potensi tegakan nyawai hasil penelitian Muhammad Abdul Qirom dan Supriyadi ini mampu memberikan akurasi data tinggi yang digambarkan dengan nilai koefisien determinasi sebesar 90,45%.

 

Nyawai  (Ficus spp) termasuk jenis utama penyusun hutan tropika yang sangat potensial dikembangkan untuk pembangunan hutan tanaman. Pengembangan nyawai membutuhkan informasi yang lengkap tentang kondisi tegakan, pertumbuhan dan hasil yang diperoleh pada masa yang akan datang. Penggunaan model penduga volume pohon dan potensi tegakan dapat menjadi alat yang mudah untuk mendapatkan potensi tegakan jenis nyawai secara cepat dan akurat. Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Abdul Qirom dan Supriyadi dalam Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Volume 10 No. 4 Desember 2013.

 

Muhammad Abdul Qirom adalah peneliti muda dengan bidang kepakaran silvikultur dan telah cukup lama melakukan penelitian terkait model penduga volume pertumbuhan beberapa jenis tumbuhan. Dalam penelitian model penduga volume jenis nyawai ini, qirom dibantu oleh Supriyadi, teknisi litkayasa yang selama ini sering membantu dalam penelitiannya.

 

Penelitian Qirom dan Supriyadi ini dilakukan di areal PT. ITCIKU Kartika Utama, Kalimantan Timur. Kondisi lahan penelitian bertopografi datar dengan kemiringan < 8 %. Jenis tanah termasuk dalam Podsolik Merah Kuning dengan pH antara 4,7-5,3.

 

Pohon contoh yang digunakan sebanyak 101 pohon dengan sebaran diameter 18,5-49,4 cm dan tinggi antara 14,7-24 m.  Pertimbangan yang digunakan Qirom dan Supriyadi dalam penentuan pohon contoh antara lain pohon sehat, tidak cacat dan bebas dari gangguan pertumbuhan.

 

Dimensi pohon yang diukur yakni diameter setinggi dada(dbh) dan tinggi total. “Pengukuran tinggi menggunakan haga meter dan diameter menggunakan Spiegel Relaskop Bitterlich (SRB). SRB adalah alat optis sehingga diameter tidak ditentukan secara langsung”, papar Qiromdalamjurnaltersebut. Lebih lanjut, Qirom memaparkan bahwa pengukuran dilakukan terhadap pohon berdiri (non destructive)  sehingga pohon contoh tidak ditebang.

 

Hasil penelitian Qirom dan Supriyadi menyebutkan model terbaik penduga volume yaknimodeldengan peubah diameter dan tinggi. Penentuan model terbaik berdasarkan beberapa parameter yang sudahbanyakdiguanakanparailmuwandalammenentukan model terbaik, antara lain nilai standar error, Root Mean Square Error (RMSE), Aike Information Criterion (AIC) dan bias dugaan.

 

Namun demikian, berdasarkan pertimbangan kepraktisan di lapangan, akanlebihefektifapabilakitamenggunakanpersamaan dengan variabel diameter pohon saja. Pengambilan data diameter di lapangan lebih mudah, cepat dan murah dengan tingkat akurat yang tinggiseperti pada hasil penelitian Zowdie  yang dikutip Qirom dan Supriyadi dalam jurnal penelitian mereka.Berdasarkan model persamaan yang telahdibuat, diperoleh data potensi volume pohon yaituberkisar antara 21,66 m/ha-113,56 m/ha untuk umur  4-7 tahun.

 

Keberadaan model penduga volume pohon dan potensi tegakan nyawai ini akan memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan hutan tanaman jenis lokal di Kalimantan. “ Model ini bisa digunakan untuk menyusun tabel volumelokal dan standar jenis nyawai di KalimantanTimur. Model ini sebagai alat yang mudah mendapatkanpotensi tegakan jenis nyawai secaracepat dan akurat” papar Qiromdalamjurnaltersebut(JND)***.

 

 

 

Hubungi lebih lanjut :

Muhammad Abdul Qirom dan Supriyadi

Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru

URL  : http://foreibanjarbaru.or.id

Jl.  A. Yani  km. 28,7 Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Telp /Fax : (0511) 4707872 / (0511) 4707872

Selamat Menunaikan Amanah “Tri Wira Yuwati dan M. Abdul Qirom” Ketua Kelti BPK Banjarbaru Terpilih Periode 2014-2017

Banjarbaru, BPK (3/11/2014);

Menjelang berakhirnya masa kerja ketua kelompok peneliti  (Kelti)  di Balai Peneltian Kehutanan (BPK) Banjarbaru, dilakukan acara pemilihan ketua kelti baru periode 2014-2017. Terpilih sebagai ketua kelti baru adalah Tri Wira Yuwati, S.Hut, M.Sc  sebagai ketua kelti budidaya hutan dan Muhammad Abdul Qirom, S.Hut, M.Si sebagai ketua kelti Manajemen Hutan.  Acara berlangsung di ruang rapat BPK Banjarbaru, Senin 3 Nopember (3/11/2014).

Kelti BPK banjarbaru periode 2014-2017 ini mengalami perubahan dari periode sebelumnya. “Pada periode 2011-2014, terdapat 3 (tiga) kelti yaitu budidaya hutan, perlindungan hutan dan sosial ekonomi kelembagaan. Sedangkan pada periode 2014-2017, terdapat 2 (dua) kelti yaitu manajemen hutan dan budidaya hutan”, papar Ir. Tjuk Sasmito Hadi, M,.Sc, kepala Balai BPK Banjarbaru.  Perubahan dilakukan dengan melihat jumlah SDM dan kepakaran dari peneliti-peneliti serta bidang penelitian yang dilakukan di BPK Banjarbaru.

Ketua kelti terpilih, Tri Wira Yuwati dan M. Abdul Qirom adalah peneliti muda di BPK Banjarbaru yang telah cukup lama berkecimpung dalam dunia penelitian. Tri Wira Yuwati memiliki kepakaran mikrobiologi, sedangkan M. Abdul Qirom memiliki kepakaran Biometrika Hutan.

“Saya sangat berterimakasih mendapatkan kepercayaan dari teman-teman untuk menjadi ketua kelti budidaya hutan” ungkap Triwira. Lebih lanjut Triwira mengemukakan akan berusaha menjaga amanah ini dan mengupayakan agar kelti budidaya  bisa menjadi lebih baik lagi. Beberapa program yang akan dijalankan diantaranya menghidupkan forum komunikasi kelti, dengan memperbanyak diskusi dan sharing informasi untuk peningkatan pengetahuan ilmiah peneliti. Selain itu juga akan menghidupkan pembinaan antara peneliti senior dan junior maupun antara peneliti teknisi supaya ada peningkatan kapasitas fungsional terutama untuk lingkup kelti budidaya hutan.

Hal serupa diungkapkan M. Abdul Qirom, ketua kelti Manajemen Hutan terpilih.”Saya berterimakasih atas penghargaan dan kepercayaan dari teman-teman dan BPK Banjarbaru” ujar M. Qirom. Qirom berharap kelti ini lebih berperan dalam kebijakan balai terutama peningkatan hasil dan kualitas penelitian, peningkatan sumber daya manusia (SDM) peneliti dan teknisi, peningkatan komunikasi antar fungsional dan non fungsional. Dengan demikian balai ini bukan hanya “dimiliki” oleh salah satu golongan tetapi semua yang ada di balai adalah milik kita semua. “Semoga Balai ini menjadi balai yang kompak, saling menghargai dan terdepan dalam penyediaan iptek kehutanan,” tandas Qirom .

Ketua kelti sendiri mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu institusi litbang. Tugas ketua kelti antara lain : mengkoordinir penyusunan pelaksanaan, monitoring dan evaluasi penelitian maupun kajian lingkup kelti sesuai dengan kebijakan Kepala Badan;  menandatangi Proposal Penelitian Tim peneliti (PPTP), Rencana Penelitian Tingkat Peneliti (RPTP) dan Laporan Hasil Penelitian (LHP) setelah diperbaiki sesuai dengan saran-saran Tim Pakar; mengusulkan peneliti, calon peneliti, teknisi litkayasa dan calon teknisi litkayasa untuk menghadiri forum ilmiah/seminar yang relevan di bidang keahliannya; memberikan saran perbaikan  dan rekomendasi untuk artikel publikasi ataupun artikel bahan seminar/lokakarya yang disusun dan diajukan oleh peneliti dikeltinya; dan beberapa tugas lainnya.

Selamat kepada ketua kelti yang baru. Selamat bertugas, selamat menunaikan amanah baru dan semoga bisa membawa perubahan yang lebih baik pada BPK Banjarbaru. Salam rimbawan***(JND).

MODEL AGROSILVOFISHERY DI LAHAN GAMBUT

Ada beberapa model agrosilvofishery yang telah dikembangkan BPK Banjarbaru di beberapa tipologi lahan gambut. Model ini dapat dikembangkan dengan dua (2) teknik, yaitu surjan/kolam gali (gambar kiri dan kanan) serta kolam terpal (gambar tengah).

Teknik surjan dikembangkan di tipologi lahan gambut tipis (rawa pasang-surut). Sedangkan kolam terpal dapat dikembangkan di semua tipologi lahan gambut.

Model agrosilvofishery dengan teknik surjan (kolam gali) dikembangkan oleh BPK Banjarbaru  bekerjasama dengan Bapak Rapingun di Desa Mantaren, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Komponen penyusun agrosilvofishery ini adalah: (a) tanaman keras (pohon): jelutung rawa (Dyera polyphylla Miq. Steenis), gaharu (Aquilaria malacencis) dan durian, (b) tanaman semusim: salak, (c) ikan: lele, patin dan nila. Jenis ikan lain yang berpotensi untuk dikembangkan adalah papuyu (Anabas testudineus), baung (Mystus nemurus), ikan gabus (Channa spp.), sepat (Trichogaster spp.), dan jelawat (Ceptobarbus hoeveni). Riap diameter batang jelutung rawa pada pola ini mencapai 1,6 cm per tahun, sedangkan riap tinggi batangnya mencapai 120 cm per tahun.

Model agrosilvofishery dengan teknik kolam terpal dikembangkan bekerjasama dengan Bapak Sutikno dari Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah.

Selain itu, BPK Banjarbaru juga telah mengembangkan minaayam. Model minaayam ini dikembangkan di lahan gambut tebal bekerjasama dengan Bapak Sukardi, Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren, Kabupaten Pulang Piau, Provinsi Kalimantan Tengah.

Analisis sederhana biaya pembuatan kolam terpal untuk budidaya ikan patin dapat dilakukan sebagai berikut. Pertama, Biaya Produksi. Total biaya produksi adalah sebesar Rp 3.700.000,- untuk pengeluaran berikut: (1) pembelian terpal ukuran 8 x 14 m; (2) lem terpal; (3) kayu dan (4) upah pembuatan kolam dan pemasangan terpal. Harga benih ikan patin di Kelurahan Kalampangan adalah Rp 600,- sampai dengan Rp 1.000,-. Kebutuhan pakan selama 6 bulan budidaya ikan patin adalah sebanyak 90 karung pakan ikan. Harga 1 karung pakan ikan patin adalah Rp 270.000,-.

Kedua, Pendapatan. Dengan jumlah awal 3.000 – 3.500 ekor benih patin, setelah dipelihara selama 6 bulan dengan konsumsi pakan seperti disebutkan di atas dapat menghasilkan panenan ikan patin sebanyak 2,3 sampai dengan 2,5 ton ikan patin. Harga per kg ikan patin di Kelurahan Kalampangan adalah Rp 15.000,-, sehingga diperoleh hasil kotor sebanyak Rp 34.500.000,- sampai dengan Rp 37.500.000,-.

Berdasarkan pengalaman Bapak Sutikno di Kelurahan Kalampangan, yang merupakan mitra penelitian ini, budidaya per 3.000 ekor patin selama 6 bulan dengan harga jual per kg Rp 15.000,- menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 10.000.000,- sampai Rp 15.000.000,-.

 

Gambar 1 Model agrosilvofishery di beberapa tipologi lahan gambut. Kiri: teknik kolam gali di lahan gambut tipis. Tengah: teknik kolam terpal di lahan gambut tebal. Kanan: teknik kolam gali dikombinasikan dengan kandang ayam (minaayam) di lahan gambut tebal.
Model agrosilvofishery diatas termasuk bagian dari pengembangan agroforestry di lahan gambut. Pengembangan agroforestry tersebut penting untuk memproduktifkan lahan gambut

 

TEKNIK STRANGULASI, CARA UNTUK MERANGSANG PEMBUNGAAN PADA POHON GEMOR

Teknik pencekikan atau yang dikenal degan strangulasi, merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mempercepat proses pembungaan dan pembuahan pada pohon gemor (Notaphoebe coriacea).  Hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwanto Budi S ini diterbitkan dalam majalah semi popular Galam, volume VI nomor 2 tahun 2013. Selain itu, Purwanto juga menyimpulkan bahwa berdasarkan pengamatan, periode berbuah gemor di Tumbang Nusa terjadi di pada awal bulan juni sampai akhir juli.

Gemor merupakan salah satu jenis pohon hutan penghasil hasil hutan non kayu yang bernilai ekonomis.  Bagian pohon yang berpotensi obat yaitu daun, kulit buah dan kulit kayunya. “ Ekspor gemor pada tahun 2011 tercatat $ 5.368” papar Purwanto.

Selama ini cara pengambilan gemor di alam dilakukan secara ekstraktif dengan menebang keseluruhan pohon gemor. Hal ini mengakibatkan kelangkaan gemor di alam. Informasi masalah pembungaan yang masih kurang, menjadi salah satu faktor belum banyak dilakukan budidaya. “Dengan demikian penelitian tentang  pembungaan dan pembuahan penting untuk dilakukan” tandas Purwanto.

Dalam penelitiannya ini Purwanto mencoba metode pencekikan, dengan mengupas kulit  batang pohon  dan pemangkasan akar gemor. “Perlakukan ini dilakukan satu tahun sebelumnya atau tahun 2011”, jelas Purwanto.  Kulit batang dikelupas mengelilingi separuh diameter pohon, dan pada bagian yang dilukai kambium dibersihkan. Pemangkasan akar dilakukan dengan memotong horisontal akar. Tujuan dari perlukaan pada batang agar transportasi makanan dari batang menuju akar menjadi lebih lambat, sehingga terjadi penumpukan hasil fotosintesis di tajuk yang akan menstimulasi pembungaan.  Hasil perlakukan ini nampak pada tahun berikutnya,  yaitu berbuahnya pohon gemor.

TURUT BERDUKA CITA

Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un, kami keluarga besar BPK Banjarbaru turut berduka cita atas wafatnya Bapak Dr.Kade Sidiyasa, Ibu Ir. Agatha Susilowati, MM, Ibu Dr. Magdalena S.Si,MSc, dan Bapak Nanda. Semoga keluarga yang ditinggalkan selalu diliputi ketabahan dan kesabaran.

PEMBAHASAN LAPORAN HASIL PENELITIAN 2013 DAN RENCANA PENELITIAN 2014

BPK Banjarbaru mengawali 2014 dengan kegiatan pembahasan laporan hasil penelitian pada hari kamis – jumat tanggal 23-24 Januari 2014 di Hotel Rodhita Banjarbaru. Kegiatan ini menjadi agenda rutin yang dilaksanakan oleh seksi program dan evaluasi setiap awal tahun. Kegiatan diawali dengan acara pembukaan oleh Bapak Kepala BPK Banjarbaru. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pentingnya kegiatan ini untuk menjadi masukan dan perbaikan laporan hasil penelitian dari para peneliti di BPK Banjarbaru.

Kegiatan pembahasan laporan ini dihadiri oleh tim koordinator dari Puslitbang Produktivitas Hutan, diantaranya Prof. Dr. Hj. Nina Mindawati, MS, Dr. Darwono ; dari Puslitbang perubahan iklim dan kebijakan kehutanan adalah Dr.Ir.Satria Astana,MSc dan dari tim pakar dari Fahutan UNLAM yang hadir adalah Prof.Dr.H. Yudi Firmanul Arifin, MSc, EmmyWinarni, MSi Hamdani Fauzi,S.Hut,M.Si.  Para koordinator dan tim pakar memberikan kritik, masukan dan saran untuk 21 laporan hasil penelitian yang disampaikan oleh para peneliti. Selain itu panitia juga mengundang instansi lain yaitu semua UPT Lingkup Kemenhut dan dinas kehutanan provinsi Kalsel. Dengan harapan para pengguna mengetahui sejauh mana hasil penelitian yang telah dicapai oleh BPK Banjarbaru.

Cukup dengan jeda 2 hari, pada tanggal 27-30 Januari acara dilanjutkan dengan kegiatan pembahasan Rencana Penelitian dan kegiatan non penelitian 2014 di Hotel Rodhita vanjarbaru dan di Ruang pertemuan BPK Banjabaru untuk kegiatan non penelitian.

(more…)

KHDTK TUMBANG NUSA TERKENAL SAMPAI NORWEGIA….!

Tumbang Nusa. Senin 16 Desember 2013, Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa kedatangan tamu jauh dan penting  yaitu Duta besar Norwegia untuk Indonesia beserta staf dan wakil dari Kementerian Lingkungan Hidup serta Asisten Gubernur Kalteng bidang Lingkungan. Mr. Stig Traavik, duta besar Norwegia tersebut sangat antusias mengamati kondisi KHDTK Tumbang Nusa. Dalam kunjungan tersebut beliau disambut dengan ramah, langsung oleh  Kepala BPK Banjarbaru Ir. Tjuk Sasmito Hadi, turut serta para peneliti BPK Banjarbaru diantaranya  Dr. Acep Akbar, MP, Purwanto BS, S.Hut, MSc, M.Abdul Qirom, S.Hut, Msi. Selain itu turun pula dalam penyambutan tersebut Riswan Ariani,S.Hut , penanggung jawab KHDTK Tumbang Nusa, Ir. Sukhyar Faidil Kasi Sarana Prasarana dan Yusep Gerry Laksono koordinator KHDTK, dan staf BPK Banjarbaru terkait lainnya.

Suatu kebanggaan bagi BPK Banjarbaru akan kunjungan ini mengingat maksud kedatangan rombongan dubes Norwegia adalah untuk mengetahui Pengelolaan Hutan Rawa Gambut lestari terkait dengan kegiatan REDD+ khususnya di Kalimantan Tengah. KHDTK Tumbang Nusa dinilai telah sukses melakukan kegiatan penelitian dan menjadi contoh untuk rehabilitasi Hutan Rawa Gambut.

(more…)

RESTORASI HUTAN MANGROVE DI KALIMANTAN SELATAN OLEH WAWAN HALWANY

 

Hutan mangrove merupakan  sebutan untuk sekelompok  tumbuhan   hidup pada habitat yang dipengaruhi oleh kondisi pasang surut.  Fungsi dan manfaat mangrove bagi kehidupan manusia khususnya bagi masyarakat sekitar pesisir sangat besar diantaranya adalah sebagai pelindung dari terjangan angin  dan gelombang, penstabil garis pantai, dan mendukung kegiatan perikanan (Lewis III, 2005).  Luas hutan mangrove di dunia sekitar 16,5 juta -18,1 juta ha.  Hutan mangrove yang ada di Indonesia sekitar 2,5 juta – 4,25 juta ha (merupakan kawasan hutan mangrove  terluas di dunia) dan luas hutan mangrove di Kalimantan Selatan sekitar 116,824 ha.  

Hutan mangrove di beberapa negara  banyak mengalami  degradasi  untuk peruntukkan lainnya.  Begitu juga yang terjadi  di Indonesia.   Konversi hutan mangrove di Kalimantan Selatan banyak dijadikan lahan tambak, pemukiman, pelabuhan dan peruntukkan lainnya.  Berdasarkan data hasil interprestasi citra satelit 2006 dalam  BPDAS Barito  (2006)  kondisi hutan mangrove yang rusak sudah mencapai 90% lebih.   Kegiatan restorasi/rehabilitasi  hutan mangrove merupakan kegiatan yang penting untuk dilakukan.   (more…)

EKSPOSE HASIL PENELITIAN BPK BANJARBARU … SUKSES !!!!

DSC_79691-300x198Banjarbaru, 19 September 2013. Ballroom Ulin Novotel Banjarmasin menjadi tempat yang indah dan tepat untuk merayakan HUT 30 tahun BPK Banjarbaru. Acara dikemas begitu apik dengan bentuk Ekspose Hasil Penelitian  dengan tema   ” 30 tahun Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru dalam Pembangunan Kehutanan di Kalimantan”. Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Badan Litbang Kehutanan , Bapak Dr. Ir. R. Iman Santoso,M.Sc.

Turut berhadir dalam acara pembukaan tersebut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah, Bapak Drs.H.M.Nispuani,MAP selaku wakil dari Gubernur Kalimantan Selatan sekaligus memberikan sambutan selamat datang kepada peserta ekspose yang sebagiannya berasal dari luar Kalsel.

Sebelum para peneliti dari BPK Banjarbaru memaparkan hasil-hasil penelitian, acara ini diawali dengan  pembahasan tentang KPH perspektif pemerintah yang disampaikan oleh  Ir. Lukito Andi, MP mewakili Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, dengan judul makalah “Pembangunan Kehutanan di Kalimantan Selatan (Dalam Menunjang Perwujudan KPH). Dan dari perspektif akademisi disampaikan oleh Prof.Dr.Ir. Hariadi Kartodihardjo Guru Besar Kebijakan Kehutanan Institut Pertanian Bogor, dengan Judul Makalah yaitu Memahami Politik Adopsi Hasil Hasil Penelitian sebagai strategi Pengembangan KPH : Studi Literatur dan Pengalaman Empiris.

Pada Sessi kedua dan ketiga para peserta mendapatkan informasi hasil-hasil penelitian BPK Banjarbaru yang disampaikan oleh beberapa wakil dari para peneliti BPK Banjarbaru. Berikut kami sampaikan rumusan dari ekspose hasil penelitian BPK Banjarbaru :

Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru telah memasuki dekade ketiga dalam perjalanannya. Dimulai pada tahun 1983 dengan nama Balai Teknologi Reboisasi, kemudian berubah menjadi Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur (BP2HTIBT) pada tahun 2002 hingga akhirnya berubah menjadi Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru pada tahun 2006. Perjalanan selama tiga dekade bukanlah waktu yang sebentar sehingga kiranya diperlukan sebuah kegiatan untuk merekam kembali jejak langkah keberadaan BPK Banjarbaru yang dikemas dalam bentuk ekspose hasil-hasil penelitian.

Tema “30 Tahun BPK Banjarbaru dalam Pembangunan Kehutanan”, dimaksudkan untuk merefleksikan perjalanan BPK Banjarbaru sebagai sebuah entitas lembaga penelitian dengan dukungan sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya, serta menampilkan apa saja yang telah dihasilkan oleh peneliti-peneliti Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru dalam memperkaya khazanah IPTEK di bidang Kehutanan dalam kurun waktu tersebut.

Berdasarkan  sambutan Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan, arahan Kabadan Litbang Kehutanan, materi pengarah dan 7 makalah yang disajikan serta diskusi yang berkembang maka kami menyampaikan intisari dari hasil ekspose 30 tahun BPK Banjarbaru sebagai berikut:

1. Adopsi hasil penelitian dalam kebijakan pembangunan harus menjadi fokus perhatian bagi institusi riset.  Adopsi tersebut memerlukan proses yang melibatkan berbagai pihak dan sangat terkait dengan dinamika politik yang berkembang. Dinamika tersebut ditentukan oleh tiga aspek yakni narasi kebijakan, kepentingan para pihak, dan jejaring kerja (network). Untuk memahami proses tersebut, banyak model yang telah dikembangkan dan sebetulnya tidak ada “praktek terbaik” dari model tersebut, akan tetapi peningkatan kapasitas semua pihak yang terkait, pemahaman akan komunikasi yang baik dan kemauan yang kuatlah (political will) yang dapat meningkatkan adopsi hasil-hasil penelitian dalam pembuatan kebijakan. Pada sisi institusi riset, adopsi hasil litbang ini merupakan sinergitas antara peneliti dengan manajemen institusi.

2. Pembangunan kehutanan khususnya percepatan pembangunan KPH di Kalimantan Selatan, memerlukan dukungan seluruh institusi baik institusi daerah maupun pusat. Dukungan tersebut sesuai dengan bidang tugas masing-masing institusi. Kontribusi Litbang Kehutanan sangat diperlukan dalam pembangunan KPH melalui diseminasi dan komunikasi hasil-hasil litbang yang berhubungan, dapat diterima dan dimanfaatkan dalam pembangunan tersebut.

3.Terdapat kecenderungan jumlah lahan kritis semakin meningkat dan terdapat faktor-faktor pembatas dalam melakukan usaha rehabilitasi seperti adanya kompetisi pertumbuhan belukar dan alang-alang yang invasive, kerawanan kebakaran yang tinggi, dan permasalahan fisik dan kimia tanah.  Mengatasi hal tersebut, BPK Banjarbaru telah melakukan uji jenis lebih dari 106 jenis tanaman dalam rehabilitasi lahan kering. Jenis yang potensial dikembangkan sebanyak 10-18 jenis.  Paket teknologi telah dihasilkan dalam tahapan pembangunan dan peningkatan produktivitas tanaman yang siap diimplementasikan. Paket teknologi tersebut antara lain:  teknik propagasi jenis, uji jenis dan penyisihan jenis, teknik persiapan lahan, input nutrisi tanaman, jarak tanam, pemeliharaan tanaman, penanganan kebakaran, dan perlindungan hama dan penyakit.

4.Pecegahan hama dan penyakit membutuhkan informasi yang lengkap terkait diagnosis  dan  identifikasi  jenis hama, patogen, gejala dan tanda serangan, dan kerusakan mekanis yang ditimbulkan. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan teknik pencegahan yang tepat seperti penggunaan jenis pestisida dan cara pengendaliannya.  Disisi lain, laboratorium pengendali hama dan penyakit diperlukan.

5.Pemahaman terhadap aspek penyebab, faktor pendukung, dan alternatif pengelolaan kebakaran menjadi faktor yang penting dalam upaya pencegahan kebakaran. Pencegahan kebakaran dapat dilakukan dengan beberapa cara yakni memberikan pengetahuan terhadap masyarakat tentang bahaya kebakaran, pemberian alternatif model pembangunan hutan yang beresiko kecil kebakaran, pembentukan masyarakat peduli api dan fasilitasi kelengkapan pemadaman sederhana.

6.Rehabilitasi hutan dan lahan rawa gambut memerlukan klasifikasi tipologi lahan gambut sesuai dengan kondisi tapak aktual, faktor-faktor pembatas pertumbuhan tanaman yang meliputi kondisi genangan dan tanah gambut, invasi jenis pakis, dan perubahan kondisi hidrologi. BPK Banjarbaru telah melakukan uji jenis pada berbagai tipologi tersebut sebanyak lebih 30 jenis dan 6 jenis yang potensial untuk dikembangkan.  Untuk mendukung rehabilitasi ini, pemahaman karakteristik jenis dan fisiologinya menjadi sangat penting. Perjalanan penelitian selama ini juga telah menghasilkan demonstrasi plot dan paket-paket teknologi seperti: teknologi penanganan benih dan propagasinya, pemilihan jenis, peningkatan produktivitas tanaman melalui pemupukan, ameliorasi, pemanfaatan mikroba tanah, dan penanganan kebakaran lahan gambut.

7.Restorasi dan rehabilitasi hutan mangrove memerlukan penyesuaian antara jenis tanaman dengan kondisi areal seperti areal akumulasi lumpur di pinggir pantai, adanya pengaruh air sungai, dampak dari gelombang pasang dan pemilihan jenis sesuai dengan zona pertumbuhannya.  Salah satu jenis yang telah berhasil dikembangkan BPK Banjarbaru adalah bakau (Rhizopora mucronata) di Sungai Bakau/Kurau.

8.Rehabilitasi lahan bekas tambang khususnya lahan bekas tambang batubara memerlukan pemahaman secara komprehensif mengenai karakteristik lahan agar dapat menentukan input teknologi yang diperlukan.  Pemahaman karakteristik lahan dapat berupa pemahaman proses suksesi atau regenerasi alam yang berlangsung dan input teknologi apa yang diperlukan untuk mempercepat proses suksesi tersebut.  Input teknologi tersebut dapat berupa: penanganan lahan seperti pengolahan lahan, pemanfaatan jenis tumbuhan penutup tanah, pemanfaatan jenis tumbuhan yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman pokok, dan pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi tapak aktual, serta usaha peningkatan produktivitas tanaman rehabilitasi berupa penambahan hara tanah yang tepat, ameliorasi dan pemanfaatan mikroba tanah.

9.Rehabilitasi lahan partisipatif yang melibatkan peran masyarakat setempat merupakan metode yang harus dijadikan target dalam semua kegiatan pemulihan fungsi hutan dan lahan pada semua tipe tapak (site).

10.Aspek kelembagaan, sosial ekonomi, dan kebijakan; aspek ini menjadi penentu dalam keberhasilan usaha pada aspek teknis rehabilitasi.  Melalui penelitian tersebut diharapkan dapat menjadikan masyarakat sebagai subjek dalam rehabilitasi lahan dan sekaligus dapat menjadi aktor peningkatan ekonomi masyarakat dan sekaligus bisa mencapai pengelolaan hutan yang lestari.  Pilar-pilar Pengelolaan Hutan Lestari adalah (1) itikad baik para pihak (nation goodwill), (2) Kelembagaan yang tepat (proper institution), (3) penegakan hukum (law enforcement), (4) tatakelola yang baik (good governance) dan (5) Ilmu, pengetahuan, SDM dan dana pendukung.

 Saran dan masukan untuk perbaikan intisari ekspose ini dapat disampaikan melalui email balai: admin@foreibanjarbaru.or.id.

Demikian dan terimakasih

 

TIM PERUMUS,

Dr. Drs. Acep Akbar, MBA, MP.

Ir. Sudin Panjaitan, MP.

Dony Rachmanadi, S.Hut, M.Si.

Marinus Kristiadi Harun, S.Hut, M.Si.

M. Abdul Qirom, S.Hut, M.Si.