Sejarah singkat

Pada tahun 1985 Balai Teknologi Reboisasi bekerjasama dengan Cabang Dinas Kehutanan Kayutangi dalam proyek inpres melakukan kegiatan Ujicoba Rehabilitasi dengan luas areal kerja sekitar 1500 hektar. Pada tahun 1990 luas areal yang dikelola BTR berkurang menjadi 500 ha dikarenakan adanya kegitan HTI yang dikelola oleh PT Dwima. Tingginya kebutuhan masyarakat sekitar akan lahan perkebunan dan untuk pembangunan daerah maka pada tahun 1997 luas areal Stasiun Ujicoba ini menjadi 370 ha berdasarka surat Kepala Kanwil Departemen Kehutanan Propinsi Kalimantan Selatan No. 0297/Kwl-II/1997 tanggal 6 Februari 1997. Pada tahun 2003 Balai Teknologi Rebosisasi berganti nama Menjadi Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur (BP2HT-IBT) dan Stasiun Ujicoba ini berganti Nama menjadi Hutan Penelitian Rantau. Hanya berjalan selama 3 tahun tepatnya pada tahun 2005 BP2HT-IBT berganti nama menjadi Balai Penelitian Kehutanan (BPK Banjarbaru). Melalui SK mentri kehutanan nomor 177/Menhut-II/2005 areal Hutan Penelitian ini ditunjuk sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rantau seluas 180 ha.

 

Lokasi

Hutan Penelitian Rantau secara geofrafis terletak pada 02057” – 02059” LS dan 115013” – 115015” BT. Jarak dari Banjarbaru kurang lebih   92 km.  Sesuai SK Menhut No. 435/Kpts-II/2009 KHDTK Rantau termasuk dalam kawasan hutan produksi. Secara administratif KHDTK Rantau termasuk dalam tiga desa dan tiga kecamatan yaitu Desa Baramban Kecamatan Piani, Desa Bitahan Baru Kecamatan Lok Paikat dan Desa Kelumpang Kecamatan Bungur.

Keadaan Topografi

Keadaan topografi pada umumnya bergelombang ringan  sampai dengan sedang (8-30%). Jenis tanah podsolik merah kuning dan laterik. Lokasi berada pada ketinggian 100-400 m dpl. Termasuk tipe iklim B (Schmidt dan Ferguson). Curah Hujan rata2 1000-2000 mm per tahun

Kondisi Vegetasi

Sebagian besar vegetasi di KHDTK Rantau merupakan tanaman reboisasi di era 1980 sampai 1990 an yang terdiri dari jenis Acacia mangium, Cassia siamea, Gmelina arborea, Shorea spp., Rotan, Ulin dan Mersawa. Saat ini kondisi tanaman reboisasi tersebut sudah sangat tua namun komposisi jenis sudah sangat beragam karena sudah terjadi infansi jenis sebagai bentuk dari suksesi alam. Dari hasil inventarisasi di bukit naga pada bulan juni 2013 diperoleh 120 jenis tumbuhan yang terdiri dari 11 jenis anggrek, 29 jenis tumbuhan obat dan 80 jenis tumbuhan berguna lainnya jumlah ini masih akan bertambah karena kegiatan inventarisasi ini baru dilakukan dengan intensitas 1 persen dari total luas areal.

 

 

 

 

Potensi yang dimiliki

A.   Terdapat beberapa Plot Penelitian dan Pengembangan

Sebagai areal yang ditetapkan secara khusus untuk kegiatan penelitian, areal ini memiliki beberapa plot penelitian dan pengembangan diantaranya plot penelitian jati, jabon merah, suksesi alam dan pembangun Arboretum jenis asli Kalimantan.

 

 

Plot tanaman jati
Plot tanaman jabon merah
 

 

 

B.    Keanekaragaman Hayati

KHDTK Rantau memiliki potensi sumberdaya hayati yang harus dipertahankan terutama terhadap tekanan dan upaya kegiatan tambang batu bara. Di areal ini telah teridentifikasi 6 jenis anura (Katak & Kodok). Keberadaan jenis ini dapat menjadi indikator bahwa areal KHDTK Rantau kondisi lingkungannya masih baik. Sebagai kawasan yang dikelilingi tambang batubara areal ini merupakan tempat perlindungan berbagai jenis satwa seperti burung (aves), mamalia, insecta, reptil dan lain-lain. Selain satwa, keberadaan jensi tumbuhan juga sangat beragam baik berupa pohon, tumbuhan bawah (graminae, liana, terna dan perdu) maupun epifit.

 

 

Katak pohon
Laba-laba
 

Jamur
Calamus manan (Rotan manau)
 

C.    Tanaman Berkhasiat Obat

KHDTK Rantau dengan potensi sumberdaya hayati yang melimpah diantaranya berpotensi sebagai tumbuhan obat. Hingga saat ini telah teridentifikiasi 29 jenis tanaman obat dengan habitus berupa Pohon, perdu, Liana, Terna dan Gramine.

 

 

 

Balik angin Styrax camporum  (Obat sakit perut)
Jualing Clausena exavata ( Obat darah tinggi)
D.   Penelitian di Bidang suksesi alam

Sejarah pembangunan KHDTK Rantau adalah bermula pada kegiatan reboisasi tahun 1983. Vegetasi asal di areal ini didominasi oleh ilalang (Imperata cylindrica ) namun sekitar 30 tahun berlangsung saat ini di KHDTK Rantau telah menjadi hutan sekunder dan semak belukar dan sangat sedikit yang masih bervegetasi ilalang. Kehadiran jenis cukup beragam dengan telah teridentifikasi 120 jenis tumbuhan di KHDTK Rantau.

E.    Potensi Kawasan sebagai mother plants

Sebagai kawasan hutan yang dikelilingi tambang batu bara, KHDTK Rantau merupakan buffer hutan yang ada di Tapin. kawasan ini memiliki berbagai jenis tegakan induk Pioneer yang siap menyebarkan jutaan bahkan milyaran benih setiap tahunnya sehingga masih memberikan harapan akan adanya suksesi alam pada areal-areal bekas tambang batubara di sekitarnya.

 

Foto : Bunga, anakan alam dan pohon induk Puspa (Schima wallicii)

F.    Sebagai daerah tangkapan bagi DAS sungai Tapin

KHDTK Rantau berada di daerah hulu dari sungai bungur. Di daerah ini sudah teridentifikasi 4 (empat) mata air yang tidak pernah kering sepanjang tahun meskipun bulan kemarau. Kondisi hutan dan tegakan yang rapat mampu menyuplai debit air ke sungai bungur dan bermuara di sungai Tapin.